Monday, July 22, 2024

 Setiap hari, setiap kali melihat wajah suamiku, aku berdoa agar dia panjang umur, sehat dan bahagia. Aku memohon dengan doa yang sayup dalam hatiku, supaya dengan kelembutan yang sama Tuhan mengizinkan doaku terkabul. Aku mencintainya karena dia sungguh mudah dicintai. Mengenai itu tak pernah aku menutupinya sekalipun.

Sekarang, biar kuceritakan bagaimana aku merasa cukup dicintai olehnya. 

Setiap pagi saat kami bangun tidur, tak peduli itu subuh atau jam tujuh, dia akan memelukku dalam kehangatannya. Kami berpelukan dua sampai tiga menit, kemudian berbincang mengenai apa dia membawa bekal atau tidak. Ritual sederhana ini tampak sepele, namun alangkah bahagianya seorang istri yang bisa merasakan limpahan kasih sayang sebelum memulai hari. Di hangat dekapannya aku memohon ampun pada Tuhan agar jangan Ia cemburu, dan berterima kasih untuk kepingan cintaNya, yang dihadiahkannya padaku melalui laki-laki ini. Kesederhanaan ini sungguhlah bisa dinilai tak terhingga akibat dari faktor lainnya, satu diantaranya adalah ketulusan suamiku dalam rumah tangga.

Sudah pasti, sebagai seorang istri, aku secara sosial ditempa untuk melayani suami. Hal yang tidak mudah untuk kulakukan karena aku tak cekatan. Gerakanku lambat dan lamat-lamat. Kalau mau cepat, aku harus mengerjakannya dengan tergesa-gesa dan awut-awutan. Satu hal yang tak kusuka, sebab ada beban rasa ingin sempurna dalam otak monyetku. Suamiku mengerti akan hal ini. Dia tidak cerewet dan bahkan membantuku dalam banyak hal. Dia tak sungkan mencuci pakaian, bahkan lebih cekatan dariku. Dia bisa memasak, dan dalam beberapa menu, sangat mahir. Dia bisa menggunakan alat-alat kebersihan rumah tangga dan apik memperbaiki kerusakan-kerusakan rumah. Bila aku bisa mencukupi dan menghidangkan sesuatu di tikar kami, pastilah karena berkat bantuannya.

Dalam aku menjadi seorang yang bekerja, dia sangat mendukung. Tak hanya dia setia mengantar jemputku di malam hari, dia mendorongku maju untuk mengambil doktoral. Meski sesekali aku merasa dia cukup peduli pada gelarku, aku malah diam-diam menggunakan hal itu sebagai alat untuk mendorongnya memperluas relasi dan sertifikasinya. Aku percaya dia seorang pembelajar, terima kasih pada Tuhan yang  mengabulkan permohonan hambaNya ini, maka dia akan menjadi seorang yang benderang, yang sinarnya membuat orang lain bangga. Tuhan memang membuat suamiku sangat indah. Aku juga diberikan mata yang terang untuk melihatnya. Tuhan rupanya Sang Romantis.

Tentu suamiku tidaklah sempurna, kesedihan dan kekecewaan beberapa kali ku ungkapkan karena dia tak menunjukkan minat pada keluargaku. Berbeda dan berkebalikan dengan istrinya yang mau mengungkapkan perhatian pada keluarga besar suaminya. Tak semua memang, hanya pada orang-orang terdekat dan nampak saja. Tapi bila aku membuat list 1-1, tentu daftarku mengalahkan daftarnya. Pikiran ini yang menjadi kesakitanku sendiri, dan sungguh celaka seekor serigala di gunung es yang menjilati pisau. Dia tak menyadari kesakitan karena dinginnya udara. Kemudian dia mati merana karena kekurangan darah. Mungkin demikianlah pikiran negatif merongrong badan yang sehat dan hati yang gembira. Jadi, meski aku tak bisa menutup mata pada kelakukan dan keputusan suamiku, pasti aku punya beberapa cara untuk beradaptasi dengannya.

Tapi biarlah itu jadi satu sisi, yang juga adalah bagian dari keindahannya. 
Yang jelas, kantong cintaku selalu kau isi, dengan perbuatanmu, perkataanmu, hadiah-hadiah penting yang kau berikan, pelukanmu yang hangat, dan yang paling utama: waktumu yang kau habiskan bersamaku. 


Aku berharap dan berdoa pada pemilikmu, kiranya Dia mengizinkan kita menua, bersama. Sayangku padamu <3

Saturday, July 20, 2024

Thursday, October 19, 2023

Seberapa kenal kita dengan pilihan kita?

Demi memeriahkan pesta demokrasi tahun depan, izinkan saya untuk menulis catatan refleksi perjalanan memilih  Bapak Negara RI setelah Amang Boru Jokowi.

Awalnya tentu bingung dengan ketiga calon pada bursa pemilihan. Rasanya seperti masuk ke warteg dengan deretan menu yang tidak menggugah selera, tapi pada saat yang sama, harus makan meski tak lapar-lapar amat. Tiada yang menggairahkan sampai pelan-pelan satu persatu menu dicicipi sebelum memutuskan pesanan. (Emang boeh menu warteg nyicip? Wkwkw) Setelah ketiga bapak diundang dalam satu diskusi di UI, pun saya masih belum terkesan. Beberapa jawaban malah membangkitkan ekspresi ... itu lho...  kayak emotikon orang nangis di WA. (Biasanya diikuti dengan "Cape banget" T_T, kayak gitu)

Tapi kemarau berangsung mendingin ketika Pak Mahfud MD masuk dalam kolam pemilihan. Tersibaklah lagi kisah patah hati yang paling menginspirasi.

Mari kita ingat lagi, 5 tahun lalu. Agar drama ini lebih ngiris, kita posisikan diri sebagai Pak Mahfud, ya.
Suatu hari Presiden menelepon, melamar "Mau gak menemani saya jadi wakil presiden?". Setelah mengatakan "Yes, I Do.", persiapan pun dilakukan. Uang disiapkan. Dokumen disiapkan. Diskusi-diskusi visi dan misi, pasti banyak. Baju sudah diukur dan disiapkan. Konsep foto bareng sudah disiapkan. Bahkan, malam sebelum pengumuman, masih mengkonfirmasi, jangan sampai salah nama. 
Maka dengan segala restu dan doa kerabat, Blio menunggu di kedai kopi besoknya. Sudah memakai baju putih, dan siap membonceng sepeda besok. Ceritanya, nanti pas dipanggil "Calon Presiden saya adalah Mahfud MD", Belio akan datang dengan senyuman, lambai-lambai bangga gitu. Pasangan JOKOWI, gitu lho!

Ndidalah, pas udah meledak ledak didada ini rasanya, yang dipanggil adalah "Maaruf ...."

Kalau di film-film, efek suaranya pasti sudah "Ngiiiiiing.", trus secara visual pandangan kamera kabur. 

Apa itu ditinggal pacar kawin, dihianati besti kayak gini lebih sakit, Gan!

Antiklimaks yang sangat membangongkan. Plot twist yang prikitiw. 

Makanya pas pak SBY marah2 karena Pak Anies milih Cak Imin, dalem hati Pak Mahfud mungkin mikir, "Nga sian bagasan ahu dabah. Um accitan dope na diau" atau bahasa gaulnya, "I've been there, Bro. Been worse" lebih parahan aku, lagi.

Tapi kisah pak Mahfud ini benar-benar membuat simpati. Beliau bukannya bukan siapa-siapa. Prestasinya banyak. Omong apa adanya. Hidupnya sederhana. Nurun ke anaknya yang kumlaud di kedokteran UGM, tapi orang-orang gak ngeh dia anak menteri. Sungguh satu sosok protagonis dalam cerita ini. 

 Dari Belio kita belajar berbesar hati dan tidak dendam. Belajar bijaksana dan penuh pengertian. Jadi Pak JKW juga pasti gak enak banget saat itu. Tapi mengenai apa yang terjadi dibelakang layar, tentu kita tak mau liar menebaknya. Karena Pak Mahfud sendiripun tiada berkoar koar akan sakit hatinya.

Selain seorang cendikiawan di dunia akademik, beliau punya serentetan prestasi yang kalau saya jabarkan akan tedengar seperti buzzer. Lain kali saja kita bahas, dalam satu tulisan khusus.

Turut senang belio menjadi salah satu kandidat. Meski kisah di atas tidak bisa jadi patokan untuk memilih Presiden. Tapi setidaknya kita sudah belajar mengenal salah satu karakter calon dari cerita itu. Semoga bisa jadi kebiasaan baik dalam diskusi politik nantinya.

https://voi.id/berita/268114/rekam-jejak-mahfud-md-di-kursi-kementerian

Friday, December 2, 2022

 "Anda memiliki kemampuan, kesungguhan, dan postur... Teknik Anda bagus dan Anda sangat menguasai busur Anda, tetapi anda belum muenguasai pikiran Anda."


Demikian Paulo Coelho membuka sebuah nasehat bagi calon calon pemanah, para pembaca "Sang Pemanah". Gandewa adalah nama tokoh utama yang dipilih oleh penerjemah buku; dalam bahasa Jawa berarti busur panah. Ilustrasi yang dipilihkanadalah seorang pemanah yang menggunakan blankon dan sarung. Buku ini bercerita tentang seorang yang sudah menemukan pencerahan dalam hidupnya. Narasi buku terdapat dalam Bab Pendahuluan dan Penutup. Selebihnya, buku berkebalan 151 halaman ini pebuh dengan ilustrasi dan ajaran-ajaran Sang Pemanah. Sepertinya Sang Pemanah benar-benar menepati janjinya, " Aku bisa mengajarimu tidak sampai satu jam, ... .Yang sulit adalah melatihkan setiap hari, sampai kau mencapai ketepatan yang dibutuhkan." Saya membaca buku ini dalam satu jam, sambil mencatat dalam hati apa-apa saja yang sekiranya perlu diingat, meski menurut sang penulis "Pemanah baru belajar justru ketika ia melupakan semua aturan dalam jalan busur dan bertindak mengandalkan nalurinya. Tetapi untuk bisa melupakan aturan-aturan itu, terlebih dahulu dia harus menghormati dan mengenali semuanya." Oleh sebab itu, saya tuliskan beberapa catatan mengenai buku ini sebagai pengingat di masa depan.



"Pemanah yang tidak pernah berbagi suka citanya kepada siapapun tentang jalan busur dan anak panah tidak akan pernah tahu kualitas dan kekurangannya sendiri"

Pada awalnya Sang Pemanah menekankan pentingnya berbagi suka cita, tapi untuk bisa bersuka cita, seorang pemanah harus tau tentang jalan busur dan anak panah. Seorang pemanah sewajarnya tahu bagaimana busur dan anak panah bekerja. Seperti yang diyakini Gandewa, "jalan busur hadir dalam setiap aktivitas manusia". Dalam kehidupan dan peran kita masing-masing, kita memiliki jalan busur kita. 

Pelajaran yang pertama oleh Sang Pemanah adalah mengenai SEKUTU. Bukan buru, bukan anak panah, bukan sasaran atau cara mengenainya, melainkan sekutu. "Sebelum memulai apapun, carilah sekutumu, orang-orang yangn tertarik mengenai apa yang kau lakukan. ... Bukan pemanah lain, yang kumaksud adalah carilah orang-orang yang memiliki kecakapan-kecakapan lain, sebab jalan busur tidak berbeda dengan jalan lain manapun yang ditempuh dengan antusiasme."

"Sekutumu belum tentu jenis orang yang memesona yang menjadi panutan semua orang dan yang menurut orang-orang 'tak ada yang lebih baik dari dia'. Sebaliknya, mereka dalah orang-orang yang tidak akan takut berbuat kesalahan dan karenanya melakukan kesalahan, dan itulah sebabnya karya mereka acap kali tidak dikenali. Padahal justru irang-orang seperti inilah yang mengubah dunia, dan setelah sekian banyak kesalahan, berhasil melakukan sesuayu yang meberikan dampak sangat besar dalam masyarakat mereka."


Membaca dua halaman ini membuat saya teringat pada kepercayaan Pak Gita Wirjawan mengenai keanekaragaman, diversity. Ia percaya kekayaan diri dicapai dengan bergaul, mendengar, dan belajar dari orang-orang yang berbeda dengan kita. Keragaman memperluas sudut pandang dan memunculkan inovasi. Hal ini pun tampaknya disetuji oleh Sang Pemanah. "dari tukang roti yang baik kau akan belajar menggunakan tanganmu, dan bagaimana membuat campuran yang tepat. Dari Petani kau berlajar tentang kesabaran, kerja keras menghormati musing-musim, dan tidak merutuki badai yang datang, sebab semua itu sia-sia."

Selanjutnya, Sang pemanah menasihatkan pembaca untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan-keputusan yang diambil. Benar bahwa keputusan itu dipengaruhi oleh pengtahuan yang kita dapat dari perspektif yang beragam, namun sekali anak panah dilesatkan, seorang pemanah bertanggung jawab atas anak panah itu. Ia takkan menyesali keputusannya. 

" Hidup bersama orang-orang seperti itu penting bagi seorang pemanah, sebab ia perlu menydari bahwa sebelum menghadapi sasaran, pertama-tama dia harus merasa cukup bebas untuk mengubah arah selagi dirinya mengangkat busur ke dadanya. Ketika dia membuka jemarinya dan melepas tali busur, dia harus berkata bagi dirinya sendiri, " Selagi menarik busur ini, aku telah menyusuri jalan yang panjang. Sekarang aku melepaskan anak panah ini dengan kesadaran penuh bahwa aku telah mengambil resiko-resiko yang diperlukan, dan mengerahkan upaya terbaikku."


Tersebab nama saya dalam bahasa arya, bahasa Jerman Kuno, berarti Anak Panah, maka Bab Anak Panah pun akan kukutip meski butuh waktu bagiku untuk mencernanya atau mengait-ngaitkannya dengan kehidupanku pribadi. 

"Anak Panah adalah sang Karsa.  Karsa harus sepenuhnya jernih, tajam, dan seimbang. Begitu Anak Panah melesat, dia takkan kembali. Karenanya lebih baik menghentikan tembakan apalikan gerakan yang mengarah kesana tak cukup tepat dan jitu, ketimbang bertindak gegabah, semata-mata karena busur telah direntangkan penuh dan sasaran telah menanti. Namun jangan pernah menunda menembakkan anak panah jika yang melumpuhkanmu adalah rasa takut membuat kesalah... . Kalaupun anak panahmu luput mengenai sasaran, kau akan belajar meningkatkan bidikanmu pada kesempatan berikutnya. ..."

Baiklah mungkin secara personal kutipan ini cocok bagi diriku. Sebab, sering kali saya takut mengambil resiko membuat kesalahan. 


Membca buku ini dalam satu jam tentu seperti mendengarkan kakek menasehati berjam-jam, ditambah bila isinya adalah 'daging semua', memakai bahasa anak JakSel. Bagaimanapun, buku ini lebih cocok dibaca satu lembar semalam dan direnungi sambil menutup mata, mengantar dalalm tidur, dengan harapan nasehatnya masuk dalam alam bawah sadar, dan diwujudnyatakan keseokan harinya. 

Friday, March 11, 2022

A friend is a friend at all times, and a brother is born for the time of adversity.

Proverbs 17:17 

Katanya pertemanan yang melewati usia 7 tahun diprediksi berlangsung seumur hidup. Menjaga kerekatan dan kedekatan dengan kawan adlah satu usaha tersendiri. Itu hal yang kupelajari setelah berjumpa dengan banyak orang. Beberapa masuk dalam inner circle yang boleh dipercaya sebagai tempat menuangkan kelemahan dan cerita sedih. Beberapa tinggal dalam daerah luar tempat berbagi cerita indah dan suka saja. 

Jenis relasi yang pertama lah yang perlu dipelihara keberlangsungannya. Yang padanya kamu temukan rumah. kedua atau ketiga. Rumah-rumah ini perlu dijaga keindahan dan kebersihannya. Dengan apresiasi, dengan bantuan, dengan menjadi orang yang bisa mendengar atau menjadi orang yang bisa diandalkan, atau menjadi orang yang bisa menceriakan. Dan, jika bertemu dengan kawan yang tepat, memelihara rumah-rumah ini seharusnya bukan lah sesuatu yang butuh usaha keras. Hanya perlu kebiasaan-kebiasaan baik. 

Bagaimanapun, tentu pernah juga bertemu dengan kawan-kawan baik tapi menyerap energi yang banyak. Katanya itu terjadi bila kita tidak sefrekuensi. Entah sifat yang bertolah belakang, atau value hidup yang gak sejurusan. Bukan berarti kita harus menghindarinya. Kawan-kawan non-zona nyaman inilah yang memaksa kita belajar dan berkembang, hingga kita lebih bijaksana dalam melihat dunia. Sehingga kita semakin 'kaya' pengalaman dan berpengertian. 

Tapi memang kawan yang langgeng adalah kawan yang memberi-dan memberi. A friend at all times, diterjemahkan dengan sangat indah dalam Bahasa Indonesia, seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Kasih setiap waktu. Jadi instead of saying "what I can get..." menjadi "what I can give..." Saat menuliskan catatan ini, aku ada satu dua nama dalam pikiranku. I wonder how I love them so much. I simply want the best for them. Mungkin itu terjadi karena mereka juga (menurutku/kurasakan) memberi dan memberi.

If you are loved, you'll just know. .... I know they care of me. 

Ada saatnya, dimana Aku gak cerita tentang kesusahanku pada mereka. Simply because I know they have had enough trouble. Ada kalanya mereka yang menahan diri untuk mengangguku karena gak mau aku kepikiran. It's sweet. Nanti kita akan bicara tentang gimana kita memenangkan hari dan bangga akan achievement hari itu. Kadang, kedua belah pihak sama-sama mengumpat akan kesusahan hari ini, dan saling menyemangati untuk besok hari. 

Beberapa pertemanan yang meski sangat sangat menyenangkan memang sudah ada masa expire nya. Tidak semua hubungan bisa dipelihara dekat-dekat dengan kita. Kehilangan? Ya, mungkin. Tapi menerima dengan dewasa bahwa masing-masing punya jalan sendiri dan sudah saatnya berpisah adalah hal baik juga. Akan ada saatnya bertemu lagi dalam kegembiraan yang baru. 

Till then, jaga baik-baik yang kamu punya... 

<3

Thursday, March 10, 2022

2022, setidaknya sampai hari ini, 10 Maret banyak, I mean, banyaak kali kesempatan yang datang dan memberikan kesempatan. Bagai angin semilir yang memberi sentuhan hangat dalam hari yang gerah, atau bagai seteguk air di padang pasir, kesempatan-kesempatan itu memberi harapan. Sayangnya harapan -harapan itu agaknya memperpanjang nafasku, tapi gak memperbanyak isi rekeningku. 
Jadi dalam hati aku cuma bisa berbisik, 'Tuhan, tolong aku..' atau ' Tuhan, tolong izinkan..'
Jadi begitulah mungkin Tuhan memberi angin dan air itu agar aku tidak mengandalkan diri sendiri lagi. :)

Wednesday, March 9, 2022


"Goal kamu apa, Vo?"

26 menit percakapan dengan Hanif, satu pertanyaan itu yang membuatku tergugu seharian. "What's my Goal?" Setelah Camp I am on My Way, 2016 tahun dimana aku menuliskan bahwa tujuan hidupku adalah "To facilitate people pursuing their dreams through English learning" yang telah kujalani lika-likunya sejak saat itu, here I am now today. LOST! Tersesat. :D

Inginku menuliskan kegagalan-kegagalan yang yang kutorehkan dengan gemilang, :D, tapi sungguh, pada akhirnya akan tiba pada kesimpulan bahwa kegagalanku yang terbesar adalah bahwa aku tidak mencoba. Bahkan mencoba untuk menginginkannya. Padahal mengingini itu gratis, mendapatkannya yang perlu bayar. Entah sejak kapan aku belajar untuk memupuskan keinginan, yang sebenarnya sangat perlu dipertanyakan: "apakah kamu tidak ingin melekat? ataukah kamu hanya tidak berani? atau kamu merasa tidak pantas?"

Dan disinilah aku sekarang, out of nowhere yang tidak melekat pada apapun selain kehampaan. Tidak pada dunia, tidak pada jiwa, tidak pada raga. Trus mauku apa? :D

Tapi begitulah mungkin ya? Akan ada saat kebosanan bicara nyata, "sampai kapan mau begini Vo?" entah itu inner voice, entah explicitly stated by your friends. 

"Aku mau jadi CEO, Vo. Itu sebabnya gue kumpulin skill set gue."

Kata-kata Hanif membuat aku merenung. Di hadapanku ada paket potensi yang bisa dijadikan sesuatu untuk menolong orang lain dan menolong diriku sendiri. Kata Om Maslow, puncak hirarki kebutuhan manusia itu adalah aktualisasi diri. Karya. Kepuasan manusia yang ultimate ada pada legacy nya.

Kata mas Ali Abidin, "Lo mau mati dikenang sebagai sebagai orang yang gimana?" yaaa "Yang berguna bagi nusa dan bangsa, terutama pada orang tua" kayak doa bapak sehari-hari. Pak, anak perempuanmu ini mau jadi apa ta?

Ada dua pendekatan sepertinya dalam melihat tujuan hidup ini. Satu, dia dicari dan dituliskan, seperti kumpulan puzzle yang dipotong dan dirangkai kayak metodenya Bang Ali dan Hanif. Mereka membuat plan dan menuliskan miles stoone yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Dua, menjalani apa yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya, setulus-tulusnya seperti apa yang Mamak lakukan. Tapi, rasa-rasanya mamak pun selalu menyimpan goals dalam hatinya. Selalu ada visi bagi mamak. Mamak yang hobi koleksi rumah XD. Mamak yang hobi sekolahin anaknya setinggi-tingginya. Itu yang menggerakkan mamak tiap pagi untuk bangun, bekerja meski sakit. Pendekatan mamak sangat sederhana: 'ada rejekinya' dan benar aja. Mamak menemukan peluang baru saat sedang "mengunung-unung kerjaannya", (Tuhan, makasih. Emakku Inspiring banget)

and how about me?

Mengingat Mamak, aku jadi mikir bahwa hal-hal sederhana yang dilakukan dengan benar akan membawa kita ke tempat yang jauh. Benar juga yang dibilang bang Nata, "Jangan kam lupakan tugu-tugu kecil lainnya, biar kam bisa lihat bahwa kam udah menjalani banyak hal."

By the way, tadi waktu mandi (entah kenapa shower jadi pemberi ide yang setia), aku kepikiran bahwa dengan aset yang aku punya, kenapa aku gak jadi seorang pembicara kelas dunia? Egrh, bisa gak ya? 

Entahlah, aku kagum dengna Lark Doley, saat satuoun kawanku gak menggangap beliau ideola. Aku norak sendiri pas melihatnya. At least, Tuhan, can I be one of Lark Doley? seorang yang humble, dimataku dia adalah pembicara kelas dunia.

Atau aku jadi penulis? Mungkin menulis buku sederhana yang menyentuh dan menggerakkan orang-orang dengan sederhana pula?

Tuhan, gimana ya dapat tenaga untuk membayar mimpi itu?

Saturday, March 5, 2022


Katanya, orang yang bahagia adalah orang yang pintar bersyukur; dia yang bisa mengapresiasi hal-hal kecil. 
Hari ini 03/05/2022, adalah perayaan 31 tahun pernikahan Bapak dan Mamak. Isn't it great?
Sebagai catatan, this is the first time we remember it. Bukan hanya bahwa Bapak dan Mamak sudah berhasil mengarungi asam-manis kehidupan perkawinan sedemikian lamanya, tapi ada hal yang mendasar yang membuat kami lebih bersyukur lagi. Yaitu bahwa kami bisa mengingat hal ini. It means, hidup kini lebih baik sehingga kami punya energi untuk mengingat hal yang seumur dewasaku tak pernah kamu rayakan.  Well, we are being okay. 

Ini rahasia manis, tapi pagi tadi saat Nande Ivo diingatkan ini hari pernikahannya 31 tahun lalu, Mamak bereaksi, "Ya udah sana. SMS Bapak-mu." Mereka sedang tidak sepakat dalam satu hal. Mamak memang bukan pasangan easy going. Hal yang mengganjal hatinya akan mengganjal hatinya selama masalah belum kelar. Beda lagi dengan Bapak yang super agreeable, "all is well, well for all." Entah kenapa pada kenyataannya it works for them. Si Mamak yang gak rileks memang karena punya value tentang apa yang benar yang harus dilakukan and she sticks on that. Jadi meski Mamak suka sensitif sendiri tentang hal-hal yang tidak memuaskan hatinya, yang diperkarakan memanglah hal yang patut diperkarakan. Mungkin Tuhan memang mengirimkan Mamak biar Bapak gak terlalu lentur hidupnya. :D Bapak, dalam sisi lain, meski sering jadi korban kekritisan Mamak akoh, bisa menyeimbangkan dengan hati yang (walau terlihat lemah) sangat luas. 

Bapak dalam keluarga besar, dalam pandanganku, memanglah bukan sosok yang ditakuti. Beliau sangat ngayom ke bou-bou dan uda, meski galak ke Bapa Tua. Entahlah, aku gak bisa membaca hati bou dan bapak udaku. Tapi seperti Bapak memanjakan anak gadisnya ini, demikianlah Bapak memanjakan adik2nya. Membuat Bapak sering dilema dalam menyeimbangkan hati istri vs hati keluarga. Kalau saja Bapak gak memanjakan juga keluarga dari pihak Mamak, entah apa jadinya. But Thank God, Bapak yang pintar berkerluarga itu memenangkan hati semua orang. At least, dalam kacamata objektif, Bapak memang gak di'takuti' nor a very respectable in his siblings eyes (one that makes mother sad too), but he deserves it sih. Bapak layak dihargai sebagai leader of the big family. He may not just want it. He is okay with that. And in Mamak's opinion that is not right. Makanya tadi beliau bals "SMS lah Bapakmu"

Dalam usia yang lebih muda. Atau seandainya aku tinggal di Jakarta, mendengar perkataan Mamak pasti membuat hatiku sedih. They are not being okay. I would not be okay with that. Tapi aku bersyukur mendengar itu saat aku siap. So I reply, "Lho, yang nikah siapa, yang SMS siapa." and we laughed! 
Well, that I trust that they can pass through this. That make me realize that my life is being wonderful.

Bapak dan Mamak punya jiwa yang indah dan saling melengkapi. Keduanya jauh dari sempurna. Tapi hari ini aku sangat bersyukur that they live long to show me what it is meant to love.

Saturday, May 1, 2021


Kaki yang terikat tidak bisa melangkah, begitu juga pikiran. 

Bila kita belum selesai dengan masa lalu, apapun tantangan yang ada dihadapan pasti akan dikaitkan dengan kejadian lampau. "Dulu pun..." , "Saat itu pun.. ". Bukankah itu bentuk afirmasi bahwa kita orang yang terjebak di satu masa? 

Saya suka dengan penggunaan Simple Perfect Tense. Ia menguraikan kejadian sebagai sebuah proses. Fungsinya untuk menerangkan sesuatu yang sudah berhasil dijalani/dilakukan.

 Kita tak perlu mengingat dengan detail waktu kejadian, cukup dengan durasi.

Berapa lama? Sejak kapan?
I have been here since 2010.

Ia juga bisa  menerangkan apa saja yang telah kita kerjakan tanpa keterangan waktu sama sekali
-Oh, I have asked them many times.
-We have solved the problem.

Tentu saja dia disebut 'present' karena yang telah kita lakukan dimasa lalu, berdampak dimasa sekarang. Secara lembut ia menyiratkan konsekuensi atas apa yang sudah kita lalui.
- He have spent all of his money, he is broke.
- Scientists have found new formula to cure the disease
- We have been fallen so many times that we are stronger now.

Tapi secara tegas menyatakan bahwa yang sudah terjadi, sudah selesai. Terima lah dan lanjutkan hidup..

...baik itu kesalahan,
I have made so many mistakes

...maupun kebaikan,
I have been blessed..


Baik itu luka, salah atau memori masa lalu yang indah, maukah kita tetap mengulangnya? Tanpa disadari ikatan itu, kitalah yang menggenggamnya. Kita lah yang tak mau melangkah. Takut barang kali? Atau karena masa lalu mudah dijadikan alasan?

 Bentuk Simple Perfect Tense mengajarkan untuk bertangungjawab pada pilihan, sekaligus mendorong kita untuk menikmatinya.

Hingga suatu saat kita meletakkan semuanya,

"I have been there.. I am over it" Sambil tersenyum dan berlari. 

Selamat Hari Minggu, semuanya...

Tuesday, February 2, 2021



x

Butuh 1287 Km perjalanan dan satu jenasah dalam mobil keluarga Hoover untuk terkoneksi. 

Sebelum masuk, dorong dulu, baru lari :)

Apa jadinya bila satu keluarga dipaksa dalam mobil dalam waktu yang panjang? Tentu anda sudah bisa menebaknya, konflik pribadi menjadi masalah bersama. Itulah yang terjadi pada keluarga Hoover dalam film Little Miss Sunshine. Poster kuning emas berlatar van mogok dan anggota keluarga yang berlarian berhasil memikat untuk menekan tombol 'select'. Mungkin saya terpengaruh oleh kenangan masa kecil mendorong mobil mogok, atau mungkin karena adegan kakek yang tampaknya baik hati dalam poster ini. 


Sayangnya, kakek ini bukan sosok teladan rupanya: penghidu heroin, otak mesum, dan terusir dari panti jompo. Gambaran non-ideal akan figur seorang ayah. Dan memang itulah keluarga ini, seperti pada umumnya, tidak ideal. Mari kita lihat anggota keluarga yang lainnya. Dimulai dengan tiga laki-laki lainnya dalam keluarga ini. 


Yang termuda, Dwanye, berambisi menjadi pilot pesawat tempur. Pintar dan kritis, Dwane mengagumi Nietzsche sampai pada titik melakukan aksi 'tutup mulut' sampai ia berhasil mewujudkan mimpinya. Aksi ini tampak seperti pemberontakan yang lesu. Sama lesunya dengan kisah hidup Frank, pamannya.


Seorang homoseksual dan mencoba bunuh diri berkali-kali akibat patah hati, Frank bukanlah seseorang yang penuh semangat. Ia cenderung pendiam dengan mata kosong. Ia menjadi beban keluarga Hoover, sebab pemerintah mewajibkannya selalu dalam pengawasan keluarganya. (Yes, pemerintah digambarkan hadir mengurusi anda saat anda depresi. Dan keluarga ini patuh pada pemerintah) Dibalik sosoknya yang dianggap pecundang, Frank adalah seorang akademisi kampus. Karirnya berhenti "karena tindakan satu dan lainnya". Sejak film dimulai, sutradara telah memposisikan Frank sebagai sosok yang patut menerima simpati. Ia cukup terbuka menjelaskan masalahnya pada keponakan kecilnya, dan tidak marah (atau terlalu lemah untuk marah) saat menerima cap 'pecundang' dari Iparnya, Ricard. 


Hanya ada dua jenis manusia di dunia ini, pecundang dan pemenang. Itulah mantra Richard, sang bapak keluarga Hoover. Memiliki ayah pecandu heroin, anak tiri yang 'emo', penyendiri dan sarkas, serta abang ipar gay yang depresi, Richrad seharusnya adalah yang paling menawan dalam keluarga ini. Apalagi, ia berprofesi sebagai motivator. Ia percaya pada kekuatan kerja keras dan selalu berusaha untuk menghindari kegagalan. Ia kerap memotivasi anaknya agar selalu menjadi yang terbaik. Agar putri kecilnya Olive bisa ikut dalam kontes kecantikan Little Miss Sunshine, iya rela berkendara puluhan jam sejarak dari Bekasi ke Lombok.


Sayangnya, Richard bukanlah favorit kita. Ia tidak memiliki rasa empati terhadap keluarganya. Ia gemar menyindir dan keras kepala. Ini tampak dalam dua adegan meja makan. Pada adegan sarapan di awal film, Richard suka memotong pembicaraan yang mendalam antara Frank dan Olive saat Olive bertanya tentang keadaan Frank. Tidak mudah untuk membuka orientasi seksual anda sekaligus menjelaskan mengapa anda mencoba bunuh diri. Saat mau bercerita, tak seorangpun mengharapkan lidahnya dipotong. Tapi Richard seperti berhati dingin karena ia tidak mengizinkan Frank mengungkapkan kegalalannya. "Tidak ada ruang untuk pecundang". Adegan selanjutnya, saat makan di restoran,  Richard mencoba memanipulasi Olive kecil agar tidak makan eskrim coklat kesukaannya "karena eskrim mengandung lemak yang membuatmu gemuk. Apakah kau pernah melihat pemenang kontes yang gemuk, Olive?". Namun kali ini, Richard kalah karena Frank dan anggota keluarga lainnya berhasil membuat Olive menikmati masa kecilnya: memakan eskrim kesukaannya. 


Tidak ada tokoh sentral dalam cerita keluarga ini. Setiap tokoh digambarkan memiliki masalah masing-masing. Namun, seperti kisah dunia lainnya dimana perempuan tampak seperti sekedar 'pendamping', jantung cerita justru adalah Olive kecil. Little Miss Sunshine dalam cerita ini menurutku bukanlah sebuah ajang kontes kecantikan, melainkan gambaran Olive, Nona Matahari Kecil dalam keluarga Hoover. 

Pertama Olive adalah motif mengapa keluarga Hoover berangkat. Olive dilatih kakeknya untuk pertunjukan bakat. Iya kakeknya yang adalah penghidu narkoba dan suka bicara kasar melatih gerakan Olive dalam ajang pertandingan bakat. Olive menjadi matahari bagi kakeknya saat ia membuat kakeknya merasa berguna. Pada akhirnya, kebijaksaan kakek tampak saat ia mendefenisikan arti sukses bagi Olive. 

Selanjutnya, Olive menjadi matahari untuk abangnya tirinya. Ia hanya duduk dan diam saat Dwayne mengamuk marah akibat tekanan kegagalannya. Aksi diamnya gagal, mimpinya gagal. Hanya kehangatan pelukan Olivelah yang mampu membujuknya untuk masuk dalam mobil dan melajutkan perjalanan. 


Olive sangat mengagumi ayahnya, itu sebabnya ia sangat takut mengecewakan Richard. Ia berjanji untuk menang dalam kontes, dan ia tampak tidak terintimidasi oleh peserta kontes lainnya. Ia menjadi sinar bagi ayahnya, saat Richard menyadari bahwa Olive berada dalam medan perang yang salah. Richard akhirnya melihat bahwa kontes kecantikan itu mengerikan. Senyuman anak-anak yang palsu dengan gigi-gigi penuh pemutih. 


Saat pertunjukan bakat, anda akan kaget-tapi-tak-heran akan penampilan Olive. Bagi saya pribadi, adegan inilah yang menjadi puncak komedi sekaligus resolusi yang apik. 

Perjalanan kita bersama keluarga Hoover menjadi berarti karena meski penuh dengan kegagalan (yang bertubi-tubi), anda akan puas karena merasa turut menjadi bagian dalam kemenangan mereka. 

 

Dibungkus oleh ideologi AMERICAN DREAM dimana anda bisa meraih apapun yang anda inginkan dengan kerja keras, film ini mendefenisikan ulang arti kesuksesan dan kebahagiaan. Adegan ditutup dengan Van Volswagen rusak dan berisik, yang tetap melaju. Mungkin seperti itulah keluarga, berisik, rusak dan kadang ada yang hilang, tapi anda melaluinya bersama-sama. 


Catatan saya adalah porsi Ibu (Sheryl) yang seperti garam dalam cerita ini, terasa tapi tak banyak. Atau, tak banyak tapi esensial. Dengan karakter laki-laki yang dominan dengan masalah yang dominan pula, Sheril tak punya banyak ruang cerita. Ia duduk disamping kemudi, menentukan harga maksimal makanan yang bisa di order, dan menjadi pendukung bagi suami, anak, dan abangnya dan kerap stress menangani keluarganya. Gambaran ibu dalam rumah tangga pada umumnya, bukan? Hal ini pula yang membuat saya suka-tidak-suka pada film ini. Tapi, sepertinya film ini tak mengizinkan saya tidak suka lama-lama. Sebuah adegan berkesan berhasil menghibur kegundahan saya akan kurangnya peran sang Ibu. "Let Olive be Olive" kata-kata inilah yang membuat Olive menjadi Ibu yang kuat. Seorang Ibu mudah tergoda untuk mengontrol kehidupan anaknya. Anak yang baik adalah anak yang bisa dikontrol. Benar gak ibu-ibu? 

Saat Richard, Frank dan Dwyane ingin melindungi Olive kecil dari kontes kecantikan yang "mengerikan", Sheril malah menanyakan keinginan Olive.

Keputusan Sheryl untuk memberikan Olive untuk memutuskan sendiri bukanlah hal yang mudah. Sheryl juga pasti ingin melindungi anak perempuannya yang manis. Namun, keputusan sang Ibu adalah keputusan yang tepat, karena pada akhirnya, Olive bisa membuktikan diri bahwa dialah Little Miss Sunshine yang sesungguhnya. 

Tuesday, December 10, 2019

How do you measure what you want in life?

Dalam setiap tujuan dan tindakan kita, seharusnya kita punya standar tertentu bukan? Dari hal tersederhana seperti membeli sayur di pasar, sampai menentukan pilihan untuk pendamping hidup, semuanya butuh pertimbangan. Ada yang dengan cepat kita bisa memutuskannya. Ada pula yang perlu pikirkan matang-matang, dibuat list plus minus, sampai didoakan berhari-hari. Semua tergantung dari seberapa lama dampak keputusan itu akan mempengaruhi hidup kita ke depannya. Masak sayur dan menikah adalah dua proses yang tidak boleh disamakan tingkat kepentingannya. (Ya kale disamain, ya? :D) Semua pertimbangan itu tentu berfungsi untuk membantu kita untuk mencapai hal yang menurut kita "IDEAL". 
Masalahnya, apa itu "ideal" dan bagaimana cara menggapai "keidealan" itu. Pernah ga sih dicap sebagai orang yang "idealis". Konotasi kata idealis sebenarnya positif, tapi dalam banyak kasus 'idealis' menjadi kata yang bernada negatif. Orang yang idealis sering disebut keras pendirian dan sulit diajak kompromi. Apa betul begitu?
Paling gampang sebenarnya kita cek KBBI mengenai defenisi ideal. Menurut KBBI daring, kata "ideal" berarti  sangat sesuai dengan yang dicita-citakan atau diangan-angankan atau dikehendaki. [1] Kata ideal sendiri berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu idea, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia sebagai sebuah visi atau kontemplasi [2]. Jadi wajar saja jika orang idealis dianggap keras kepala, sebab 'idea' muncul sebagai sebuah visi (penglihatan) dan kontemplasi (perenungan).
Bohong banget kalo ada orang yang bilang "aku sih ga punya tipe ideal, yang penting dia nyambung sama aku." Blah! Mana ada itu! "dia nyambung sama aku" sendiri itu adalah sebuah tipe ideal. Cuma, ya perlu waktu untuk merenungkan, yang disebut "nyambung" itu gimana rinciannya? Kalau dia ngomongin politik, kamu ngomongin fashion, nyambung ga? Iya kali kalian jadinya membahas betapa industri selendang yang dipakai mentri Sri Mulyani dalam acara-acara kondangan turut memajukan ekonomi daerah, hehehe. Maksa ya. 

Intinya, pasti kita semua mendambakan keadaan atau pun orang yang ideal.
Selain bersifat subjektif, idea juga bisa jadi berubah, tergantung dari siempunya. Seiring dengan hal-hal yang terjadi dalam hidup kita, hal-hal idealis yang ada dalam hidup juga berubah. Misalkan, jika dulu sewaktu SMA orang yang ganteng dan romantis menjadi sosok ideal menjadi pacar, maka ketika kuliah 'orang yang pintar' lebih menarik. Sejalan dengan waktu, orang yang mapan dan berwibawa terlihat lebih menentramkan sekaligus mensejahterakan. Semuanya berubah sesuai dengan pengalaman hidup. Ada seorang senior yang memilih tidak akan menikahi laki-laki rupawan karena trauma dengan mantan pacarnya yang, menurutnya, pecicilan. Ada juga yang merasa harta bukan segala-galanya karena secara ekonomi seseorang merasa mampu untuk mencukupi hidupnya tanpa harus mencari pasangan kaya raya. Sebaliknnya, ada yang merasa orang kaya biasanya memiliki persepsi yang sangat berbeda tentang uang. Sehingga bukan hanya mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak, cara menggunakan uang bagi orang kaya juga  tidak norak menghambur-hamburkan. Yah, itu kembali pada kecocokan dan idaman masing-masing.


Bagaimanapun yang paling penting adalah kita tahu apa yang ideal bagi kita sendiri. Apa yang kita butuhkan, baik secara mental maupun material. Aku rasa tidak ada salahnya jika kita memiliki tipe idela dalam hidup ini. Banyak orang yang sungkan untuk mengutarakan sosok seperti apa yang mereka mau. Mungkin takut atau merasa tidak pantas. Mungkin merasa tabu. Tapi jauh didalam hatimu, bukankah kamu punya sosok itu sebenarnya? Mungkin kita tidak perlu mengutarakan kepada orang lain. Tapi kita harus mengutarakan pada diri sendiri, "aku mau orang yang seperti kriteria ini 1..2..3.."  atau "orang yang ideal sebagai pasangan bagiku adalah yang seperti ini...." 
Seperti namanya, idea adalah sebuah kontemplasi. Perlu merenungkan dengan sungguh-sungguh tentang tipe pasangan yang kamu butuhkan dalam hidup. Ketika aku mengatakan pasangan, tentu yang aku maksud adalah pasangan hingga jenjang pernikahan. Bagiku pribadi, kehidupan idealnya di-isi dengan sebuah pernikahan. Terlepas dari hiruk pikuk masalah yang akan dihadapi. 

Pada akhirnya memang tidak ada yang benar-benar 100 persen seperti sosok "ideal" yang kita mau. Tapi memiliki standar dalam hidup jauh lebih baik dari pada menerima apa adanya. Ingat, sebelum kamu menikah kamu punya banyak pilihan. Setidaknya kamu punya dua "menunggu yang mendekati ideal datang" atau "menerima siapa saja sebagai sosok idealmu"

[1] https://kbbi.web.id/ideal
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Ideal

Saturday, December 7, 2019

Melirik pada kilasan 2019, beberapa bulan terakhir bukanlah bulan-bulan yang penuh ucapan syukur buatku. Meskipun seharusnya aku mengucap syukur untuk banyak hal yang Tuhan beri dan percayakan untuk untukku, rasanya kepuasan maksimal belum tercapai. Ada bagian dari dalam diriku yang masih kosong, perlu diisi. Singkatnya, aku mengakui ketidakbahagiaan yang aku rasakan disebabkan ada hal yang seharusnya aku lakukan, tapi tidak aku lakukan dengan berbagai alasan.
Kembali bertemu dengan member UITMC membuatku sangat bahagia dan hatiku bertanya "Where have I been? Kemana saja saya selama ini?"
Bekerja sebagai full-time part-timer membuatku hanya berfokus pada kerja dan uang. Sangat melelahkan ketika kamu fokus pada uang dan mengorbankan kesehatan jiwa-ragamu. Kesehatan jiwa, yang dulunya aku isi dengan berkumpul dengan orang-orang positif ini, terkuras. Hari liburku akhirnya dipenuhi dengan hal-hal non-produktif, seperti tidur, rebah, dan webtoonan. Selain un-faedah, kegiatan sejenis telah merusak hubungan dengan diri sendiri dan sesama. Kesehatan raga juga terlupakan karena sometimes I skipped lunch or dinner. Berat badanku kacau, hanya 42 kilo. Iyaps, that's too bad untuk seorang wanita mandiri yang aktif bekerja kesonoh-sinih. Jangan tanyakan olahraga! Latihan ringanpun tidak aku lakukan. Padahal, kalau dihitung-hitung pemasukan yang diharapkan juga tidak seluarbiasa itu, meski aku tetap sangat mensyukuri pekerjaanku.
Sampai dua hari yang lalu, aku menyadari bahwa I have been being insecure. Pernah ga kalian melihat teman-teman yang keren lalu merasa 'wow. dia keren!' tapi satu sisi merasa 'ih, kok aku masih gini-gini aja?'. Bagiku, itu adalah alarm bahwa ada hal yang harus segera diperbaiki dalam hidupku. Ketika aku mulai merasa cemas akan hidupku saat aku melihat kegembiraan orang lain, artinya aku iri. Iri hati, meskipun wajar dan manusiawi, adalah hal yang salah. Maka semakin tidak bahagialah aku dan sangat merasa bersalah karena I started being jealous.
After I evaluated myself, aku sadar bahwa I've been so focused on myself that I forgot my surrounding. I asked myself, "What do I need? Apa yang aku butuhkan? Inspirasi? Koneksi? relasi? Energi?" Today, that I decided to go and visited my former club ,I felt fulfilled. Terasa cukup di-recharge. So, this what I have been longed for so long. The feeling of learning and growing.
Kebutuhan dasar manusia adalah mencakup intake dan output. Seperti kita butuh makan, kita juga butuh belajar sebagai intake. Kita perlu merasa bertumbuh. Selain itu kita juga butuh out put. Kita butuh bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sebagai manusia, kita perlu untuk merasa berdaya. Dan rasanya benar, kebaharuan sangat membantu untuk merasa bahagia.




Harus kuakui, September ke November adalah bulan-bulan lelah. But, I survived. Banyak hal-hal yang mengecewakan yang aku lalukan. I have to do something about that. Aku berharap kita semua bahagia, agar kita bisa membahagiakan lingkungan kita. Agar kita terhindar dari rasa iri hati. Agar kita bisa berdamai dengan keadaan. Hidup masih panjang, sayangnya kita tidak tau kapan visa kita di bumi expired. Untuk itu aku berharap, kita melakukan sesuatu yang baru yang bisa membuat kita bahagia.

Follow Us @thequarterz