Monday, July 22, 2024

 Setiap hari, setiap kali melihat wajah suamiku, aku berdoa agar dia panjang umur, sehat dan bahagia. Aku memohon dengan doa yang sayup dalam hatiku, supaya dengan kelembutan yang sama Tuhan mengizinkan doaku terkabul. Aku mencintainya karena dia sungguh mudah dicintai. Mengenai itu tak pernah aku menutupinya sekalipun.

Sekarang, biar kuceritakan bagaimana aku merasa cukup dicintai olehnya. 

Setiap pagi saat kami bangun tidur, tak peduli itu subuh atau jam tujuh, dia akan memelukku dalam kehangatannya. Kami berpelukan dua sampai tiga menit, kemudian berbincang mengenai apa dia membawa bekal atau tidak. Ritual sederhana ini tampak sepele, namun alangkah bahagianya seorang istri yang bisa merasakan limpahan kasih sayang sebelum memulai hari. Di hangat dekapannya aku memohon ampun pada Tuhan agar jangan Ia cemburu, dan berterima kasih untuk kepingan cintaNya, yang dihadiahkannya padaku melalui laki-laki ini. Kesederhanaan ini sungguhlah bisa dinilai tak terhingga akibat dari faktor lainnya, satu diantaranya adalah ketulusan suamiku dalam rumah tangga.

Sudah pasti, sebagai seorang istri, aku secara sosial ditempa untuk melayani suami. Hal yang tidak mudah untuk kulakukan karena aku tak cekatan. Gerakanku lambat dan lamat-lamat. Kalau mau cepat, aku harus mengerjakannya dengan tergesa-gesa dan awut-awutan. Satu hal yang tak kusuka, sebab ada beban rasa ingin sempurna dalam otak monyetku. Suamiku mengerti akan hal ini. Dia tidak cerewet dan bahkan membantuku dalam banyak hal. Dia tak sungkan mencuci pakaian, bahkan lebih cekatan dariku. Dia bisa memasak, dan dalam beberapa menu, sangat mahir. Dia bisa menggunakan alat-alat kebersihan rumah tangga dan apik memperbaiki kerusakan-kerusakan rumah. Bila aku bisa mencukupi dan menghidangkan sesuatu di tikar kami, pastilah karena berkat bantuannya.

Dalam aku menjadi seorang yang bekerja, dia sangat mendukung. Tak hanya dia setia mengantar jemputku di malam hari, dia mendorongku maju untuk mengambil doktoral. Meski sesekali aku merasa dia cukup peduli pada gelarku, aku malah diam-diam menggunakan hal itu sebagai alat untuk mendorongnya memperluas relasi dan sertifikasinya. Aku percaya dia seorang pembelajar, terima kasih pada Tuhan yang  mengabulkan permohonan hambaNya ini, maka dia akan menjadi seorang yang benderang, yang sinarnya membuat orang lain bangga. Tuhan memang membuat suamiku sangat indah. Aku juga diberikan mata yang terang untuk melihatnya. Tuhan rupanya Sang Romantis.

Tentu suamiku tidaklah sempurna, kesedihan dan kekecewaan beberapa kali ku ungkapkan karena dia tak menunjukkan minat pada keluargaku. Berbeda dan berkebalikan dengan istrinya yang mau mengungkapkan perhatian pada keluarga besar suaminya. Tak semua memang, hanya pada orang-orang terdekat dan nampak saja. Tapi bila aku membuat list 1-1, tentu daftarku mengalahkan daftarnya. Pikiran ini yang menjadi kesakitanku sendiri, dan sungguh celaka seekor serigala di gunung es yang menjilati pisau. Dia tak menyadari kesakitan karena dinginnya udara. Kemudian dia mati merana karena kekurangan darah. Mungkin demikianlah pikiran negatif merongrong badan yang sehat dan hati yang gembira. Jadi, meski aku tak bisa menutup mata pada kelakukan dan keputusan suamiku, pasti aku punya beberapa cara untuk beradaptasi dengannya.

Tapi biarlah itu jadi satu sisi, yang juga adalah bagian dari keindahannya. 
Yang jelas, kantong cintaku selalu kau isi, dengan perbuatanmu, perkataanmu, hadiah-hadiah penting yang kau berikan, pelukanmu yang hangat, dan yang paling utama: waktumu yang kau habiskan bersamaku. 


Aku berharap dan berdoa pada pemilikmu, kiranya Dia mengizinkan kita menua, bersama. Sayangku padamu <3

Saturday, July 20, 2024

Thursday, October 19, 2023

Seberapa kenal kita dengan pilihan kita?

Demi memeriahkan pesta demokrasi tahun depan, izinkan saya untuk menulis catatan refleksi perjalanan memilih  Bapak Negara RI setelah Amang Boru Jokowi.

Awalnya tentu bingung dengan ketiga calon pada bursa pemilihan. Rasanya seperti masuk ke warteg dengan deretan menu yang tidak menggugah selera, tapi pada saat yang sama, harus makan meski tak lapar-lapar amat. Tiada yang menggairahkan sampai pelan-pelan satu persatu menu dicicipi sebelum memutuskan pesanan. (Emang boeh menu warteg nyicip? Wkwkw) Setelah ketiga bapak diundang dalam satu diskusi di UI, pun saya masih belum terkesan. Beberapa jawaban malah membangkitkan ekspresi ... itu lho...  kayak emotikon orang nangis di WA. (Biasanya diikuti dengan "Cape banget" T_T, kayak gitu)

Tapi kemarau berangsung mendingin ketika Pak Mahfud MD masuk dalam kolam pemilihan. Tersibaklah lagi kisah patah hati yang paling menginspirasi.

Mari kita ingat lagi, 5 tahun lalu. Agar drama ini lebih ngiris, kita posisikan diri sebagai Pak Mahfud, ya.
Suatu hari Presiden menelepon, melamar "Mau gak menemani saya jadi wakil presiden?". Setelah mengatakan "Yes, I Do.", persiapan pun dilakukan. Uang disiapkan. Dokumen disiapkan. Diskusi-diskusi visi dan misi, pasti banyak. Baju sudah diukur dan disiapkan. Konsep foto bareng sudah disiapkan. Bahkan, malam sebelum pengumuman, masih mengkonfirmasi, jangan sampai salah nama. 
Maka dengan segala restu dan doa kerabat, Blio menunggu di kedai kopi besoknya. Sudah memakai baju putih, dan siap membonceng sepeda besok. Ceritanya, nanti pas dipanggil "Calon Presiden saya adalah Mahfud MD", Belio akan datang dengan senyuman, lambai-lambai bangga gitu. Pasangan JOKOWI, gitu lho!

Ndidalah, pas udah meledak ledak didada ini rasanya, yang dipanggil adalah "Maaruf ...."

Kalau di film-film, efek suaranya pasti sudah "Ngiiiiiing.", trus secara visual pandangan kamera kabur. 

Apa itu ditinggal pacar kawin, dihianati besti kayak gini lebih sakit, Gan!

Antiklimaks yang sangat membangongkan. Plot twist yang prikitiw. 

Makanya pas pak SBY marah2 karena Pak Anies milih Cak Imin, dalem hati Pak Mahfud mungkin mikir, "Nga sian bagasan ahu dabah. Um accitan dope na diau" atau bahasa gaulnya, "I've been there, Bro. Been worse" lebih parahan aku, lagi.

Tapi kisah pak Mahfud ini benar-benar membuat simpati. Beliau bukannya bukan siapa-siapa. Prestasinya banyak. Omong apa adanya. Hidupnya sederhana. Nurun ke anaknya yang kumlaud di kedokteran UGM, tapi orang-orang gak ngeh dia anak menteri. Sungguh satu sosok protagonis dalam cerita ini. 

 Dari Belio kita belajar berbesar hati dan tidak dendam. Belajar bijaksana dan penuh pengertian. Jadi Pak JKW juga pasti gak enak banget saat itu. Tapi mengenai apa yang terjadi dibelakang layar, tentu kita tak mau liar menebaknya. Karena Pak Mahfud sendiripun tiada berkoar koar akan sakit hatinya.

Selain seorang cendikiawan di dunia akademik, beliau punya serentetan prestasi yang kalau saya jabarkan akan tedengar seperti buzzer. Lain kali saja kita bahas, dalam satu tulisan khusus.

Turut senang belio menjadi salah satu kandidat. Meski kisah di atas tidak bisa jadi patokan untuk memilih Presiden. Tapi setidaknya kita sudah belajar mengenal salah satu karakter calon dari cerita itu. Semoga bisa jadi kebiasaan baik dalam diskusi politik nantinya.

https://voi.id/berita/268114/rekam-jejak-mahfud-md-di-kursi-kementerian

Friday, December 2, 2022

 "Anda memiliki kemampuan, kesungguhan, dan postur... Teknik Anda bagus dan Anda sangat menguasai busur Anda, tetapi anda belum muenguasai pikiran Anda."


Demikian Paulo Coelho membuka sebuah nasehat bagi calon calon pemanah, para pembaca "Sang Pemanah". Gandewa adalah nama tokoh utama yang dipilih oleh penerjemah buku; dalam bahasa Jawa berarti busur panah. Ilustrasi yang dipilihkanadalah seorang pemanah yang menggunakan blankon dan sarung. Buku ini bercerita tentang seorang yang sudah menemukan pencerahan dalam hidupnya. Narasi buku terdapat dalam Bab Pendahuluan dan Penutup. Selebihnya, buku berkebalan 151 halaman ini pebuh dengan ilustrasi dan ajaran-ajaran Sang Pemanah. Sepertinya Sang Pemanah benar-benar menepati janjinya, " Aku bisa mengajarimu tidak sampai satu jam, ... .Yang sulit adalah melatihkan setiap hari, sampai kau mencapai ketepatan yang dibutuhkan." Saya membaca buku ini dalam satu jam, sambil mencatat dalam hati apa-apa saja yang sekiranya perlu diingat, meski menurut sang penulis "Pemanah baru belajar justru ketika ia melupakan semua aturan dalam jalan busur dan bertindak mengandalkan nalurinya. Tetapi untuk bisa melupakan aturan-aturan itu, terlebih dahulu dia harus menghormati dan mengenali semuanya." Oleh sebab itu, saya tuliskan beberapa catatan mengenai buku ini sebagai pengingat di masa depan.



"Pemanah yang tidak pernah berbagi suka citanya kepada siapapun tentang jalan busur dan anak panah tidak akan pernah tahu kualitas dan kekurangannya sendiri"

Pada awalnya Sang Pemanah menekankan pentingnya berbagi suka cita, tapi untuk bisa bersuka cita, seorang pemanah harus tau tentang jalan busur dan anak panah. Seorang pemanah sewajarnya tahu bagaimana busur dan anak panah bekerja. Seperti yang diyakini Gandewa, "jalan busur hadir dalam setiap aktivitas manusia". Dalam kehidupan dan peran kita masing-masing, kita memiliki jalan busur kita. 

Pelajaran yang pertama oleh Sang Pemanah adalah mengenai SEKUTU. Bukan buru, bukan anak panah, bukan sasaran atau cara mengenainya, melainkan sekutu. "Sebelum memulai apapun, carilah sekutumu, orang-orang yangn tertarik mengenai apa yang kau lakukan. ... Bukan pemanah lain, yang kumaksud adalah carilah orang-orang yang memiliki kecakapan-kecakapan lain, sebab jalan busur tidak berbeda dengan jalan lain manapun yang ditempuh dengan antusiasme."

"Sekutumu belum tentu jenis orang yang memesona yang menjadi panutan semua orang dan yang menurut orang-orang 'tak ada yang lebih baik dari dia'. Sebaliknya, mereka dalah orang-orang yang tidak akan takut berbuat kesalahan dan karenanya melakukan kesalahan, dan itulah sebabnya karya mereka acap kali tidak dikenali. Padahal justru irang-orang seperti inilah yang mengubah dunia, dan setelah sekian banyak kesalahan, berhasil melakukan sesuayu yang meberikan dampak sangat besar dalam masyarakat mereka."


Membaca dua halaman ini membuat saya teringat pada kepercayaan Pak Gita Wirjawan mengenai keanekaragaman, diversity. Ia percaya kekayaan diri dicapai dengan bergaul, mendengar, dan belajar dari orang-orang yang berbeda dengan kita. Keragaman memperluas sudut pandang dan memunculkan inovasi. Hal ini pun tampaknya disetuji oleh Sang Pemanah. "dari tukang roti yang baik kau akan belajar menggunakan tanganmu, dan bagaimana membuat campuran yang tepat. Dari Petani kau berlajar tentang kesabaran, kerja keras menghormati musing-musim, dan tidak merutuki badai yang datang, sebab semua itu sia-sia."

Selanjutnya, Sang pemanah menasihatkan pembaca untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan-keputusan yang diambil. Benar bahwa keputusan itu dipengaruhi oleh pengtahuan yang kita dapat dari perspektif yang beragam, namun sekali anak panah dilesatkan, seorang pemanah bertanggung jawab atas anak panah itu. Ia takkan menyesali keputusannya. 

" Hidup bersama orang-orang seperti itu penting bagi seorang pemanah, sebab ia perlu menydari bahwa sebelum menghadapi sasaran, pertama-tama dia harus merasa cukup bebas untuk mengubah arah selagi dirinya mengangkat busur ke dadanya. Ketika dia membuka jemarinya dan melepas tali busur, dia harus berkata bagi dirinya sendiri, " Selagi menarik busur ini, aku telah menyusuri jalan yang panjang. Sekarang aku melepaskan anak panah ini dengan kesadaran penuh bahwa aku telah mengambil resiko-resiko yang diperlukan, dan mengerahkan upaya terbaikku."


Tersebab nama saya dalam bahasa arya, bahasa Jerman Kuno, berarti Anak Panah, maka Bab Anak Panah pun akan kukutip meski butuh waktu bagiku untuk mencernanya atau mengait-ngaitkannya dengan kehidupanku pribadi. 

"Anak Panah adalah sang Karsa.  Karsa harus sepenuhnya jernih, tajam, dan seimbang. Begitu Anak Panah melesat, dia takkan kembali. Karenanya lebih baik menghentikan tembakan apalikan gerakan yang mengarah kesana tak cukup tepat dan jitu, ketimbang bertindak gegabah, semata-mata karena busur telah direntangkan penuh dan sasaran telah menanti. Namun jangan pernah menunda menembakkan anak panah jika yang melumpuhkanmu adalah rasa takut membuat kesalah... . Kalaupun anak panahmu luput mengenai sasaran, kau akan belajar meningkatkan bidikanmu pada kesempatan berikutnya. ..."

Baiklah mungkin secara personal kutipan ini cocok bagi diriku. Sebab, sering kali saya takut mengambil resiko membuat kesalahan. 


Membca buku ini dalam satu jam tentu seperti mendengarkan kakek menasehati berjam-jam, ditambah bila isinya adalah 'daging semua', memakai bahasa anak JakSel. Bagaimanapun, buku ini lebih cocok dibaca satu lembar semalam dan direnungi sambil menutup mata, mengantar dalalm tidur, dengan harapan nasehatnya masuk dalam alam bawah sadar, dan diwujudnyatakan keseokan harinya. 

Friday, March 11, 2022

A friend is a friend at all times, and a brother is born for the time of adversity.

Proverbs 17:17 

Katanya pertemanan yang melewati usia 7 tahun diprediksi berlangsung seumur hidup. Menjaga kerekatan dan kedekatan dengan kawan adlah satu usaha tersendiri. Itu hal yang kupelajari setelah berjumpa dengan banyak orang. Beberapa masuk dalam inner circle yang boleh dipercaya sebagai tempat menuangkan kelemahan dan cerita sedih. Beberapa tinggal dalam daerah luar tempat berbagi cerita indah dan suka saja. 

Jenis relasi yang pertama lah yang perlu dipelihara keberlangsungannya. Yang padanya kamu temukan rumah. kedua atau ketiga. Rumah-rumah ini perlu dijaga keindahan dan kebersihannya. Dengan apresiasi, dengan bantuan, dengan menjadi orang yang bisa mendengar atau menjadi orang yang bisa diandalkan, atau menjadi orang yang bisa menceriakan. Dan, jika bertemu dengan kawan yang tepat, memelihara rumah-rumah ini seharusnya bukan lah sesuatu yang butuh usaha keras. Hanya perlu kebiasaan-kebiasaan baik. 

Bagaimanapun, tentu pernah juga bertemu dengan kawan-kawan baik tapi menyerap energi yang banyak. Katanya itu terjadi bila kita tidak sefrekuensi. Entah sifat yang bertolah belakang, atau value hidup yang gak sejurusan. Bukan berarti kita harus menghindarinya. Kawan-kawan non-zona nyaman inilah yang memaksa kita belajar dan berkembang, hingga kita lebih bijaksana dalam melihat dunia. Sehingga kita semakin 'kaya' pengalaman dan berpengertian. 

Tapi memang kawan yang langgeng adalah kawan yang memberi-dan memberi. A friend at all times, diterjemahkan dengan sangat indah dalam Bahasa Indonesia, seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Kasih setiap waktu. Jadi instead of saying "what I can get..." menjadi "what I can give..." Saat menuliskan catatan ini, aku ada satu dua nama dalam pikiranku. I wonder how I love them so much. I simply want the best for them. Mungkin itu terjadi karena mereka juga (menurutku/kurasakan) memberi dan memberi.

If you are loved, you'll just know. .... I know they care of me. 

Ada saatnya, dimana Aku gak cerita tentang kesusahanku pada mereka. Simply because I know they have had enough trouble. Ada kalanya mereka yang menahan diri untuk mengangguku karena gak mau aku kepikiran. It's sweet. Nanti kita akan bicara tentang gimana kita memenangkan hari dan bangga akan achievement hari itu. Kadang, kedua belah pihak sama-sama mengumpat akan kesusahan hari ini, dan saling menyemangati untuk besok hari. 

Beberapa pertemanan yang meski sangat sangat menyenangkan memang sudah ada masa expire nya. Tidak semua hubungan bisa dipelihara dekat-dekat dengan kita. Kehilangan? Ya, mungkin. Tapi menerima dengan dewasa bahwa masing-masing punya jalan sendiri dan sudah saatnya berpisah adalah hal baik juga. Akan ada saatnya bertemu lagi dalam kegembiraan yang baru. 

Till then, jaga baik-baik yang kamu punya... 

<3

Thursday, March 10, 2022

2022, setidaknya sampai hari ini, 10 Maret banyak, I mean, banyaak kali kesempatan yang datang dan memberikan kesempatan. Bagai angin semilir yang memberi sentuhan hangat dalam hari yang gerah, atau bagai seteguk air di padang pasir, kesempatan-kesempatan itu memberi harapan. Sayangnya harapan -harapan itu agaknya memperpanjang nafasku, tapi gak memperbanyak isi rekeningku. 
Jadi dalam hati aku cuma bisa berbisik, 'Tuhan, tolong aku..' atau ' Tuhan, tolong izinkan..'
Jadi begitulah mungkin Tuhan memberi angin dan air itu agar aku tidak mengandalkan diri sendiri lagi. :)

Wednesday, March 9, 2022


"Goal kamu apa, Vo?"

26 menit percakapan dengan Hanif, satu pertanyaan itu yang membuatku tergugu seharian. "What's my Goal?" Setelah Camp I am on My Way, 2016 tahun dimana aku menuliskan bahwa tujuan hidupku adalah "To facilitate people pursuing their dreams through English learning" yang telah kujalani lika-likunya sejak saat itu, here I am now today. LOST! Tersesat. :D

Inginku menuliskan kegagalan-kegagalan yang yang kutorehkan dengan gemilang, :D, tapi sungguh, pada akhirnya akan tiba pada kesimpulan bahwa kegagalanku yang terbesar adalah bahwa aku tidak mencoba. Bahkan mencoba untuk menginginkannya. Padahal mengingini itu gratis, mendapatkannya yang perlu bayar. Entah sejak kapan aku belajar untuk memupuskan keinginan, yang sebenarnya sangat perlu dipertanyakan: "apakah kamu tidak ingin melekat? ataukah kamu hanya tidak berani? atau kamu merasa tidak pantas?"

Dan disinilah aku sekarang, out of nowhere yang tidak melekat pada apapun selain kehampaan. Tidak pada dunia, tidak pada jiwa, tidak pada raga. Trus mauku apa? :D

Tapi begitulah mungkin ya? Akan ada saat kebosanan bicara nyata, "sampai kapan mau begini Vo?" entah itu inner voice, entah explicitly stated by your friends. 

"Aku mau jadi CEO, Vo. Itu sebabnya gue kumpulin skill set gue."

Kata-kata Hanif membuat aku merenung. Di hadapanku ada paket potensi yang bisa dijadikan sesuatu untuk menolong orang lain dan menolong diriku sendiri. Kata Om Maslow, puncak hirarki kebutuhan manusia itu adalah aktualisasi diri. Karya. Kepuasan manusia yang ultimate ada pada legacy nya.

Kata mas Ali Abidin, "Lo mau mati dikenang sebagai sebagai orang yang gimana?" yaaa "Yang berguna bagi nusa dan bangsa, terutama pada orang tua" kayak doa bapak sehari-hari. Pak, anak perempuanmu ini mau jadi apa ta?

Ada dua pendekatan sepertinya dalam melihat tujuan hidup ini. Satu, dia dicari dan dituliskan, seperti kumpulan puzzle yang dipotong dan dirangkai kayak metodenya Bang Ali dan Hanif. Mereka membuat plan dan menuliskan miles stoone yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Dua, menjalani apa yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya, setulus-tulusnya seperti apa yang Mamak lakukan. Tapi, rasa-rasanya mamak pun selalu menyimpan goals dalam hatinya. Selalu ada visi bagi mamak. Mamak yang hobi koleksi rumah XD. Mamak yang hobi sekolahin anaknya setinggi-tingginya. Itu yang menggerakkan mamak tiap pagi untuk bangun, bekerja meski sakit. Pendekatan mamak sangat sederhana: 'ada rejekinya' dan benar aja. Mamak menemukan peluang baru saat sedang "mengunung-unung kerjaannya", (Tuhan, makasih. Emakku Inspiring banget)

and how about me?

Mengingat Mamak, aku jadi mikir bahwa hal-hal sederhana yang dilakukan dengan benar akan membawa kita ke tempat yang jauh. Benar juga yang dibilang bang Nata, "Jangan kam lupakan tugu-tugu kecil lainnya, biar kam bisa lihat bahwa kam udah menjalani banyak hal."

By the way, tadi waktu mandi (entah kenapa shower jadi pemberi ide yang setia), aku kepikiran bahwa dengan aset yang aku punya, kenapa aku gak jadi seorang pembicara kelas dunia? Egrh, bisa gak ya? 

Entahlah, aku kagum dengna Lark Doley, saat satuoun kawanku gak menggangap beliau ideola. Aku norak sendiri pas melihatnya. At least, Tuhan, can I be one of Lark Doley? seorang yang humble, dimataku dia adalah pembicara kelas dunia.

Atau aku jadi penulis? Mungkin menulis buku sederhana yang menyentuh dan menggerakkan orang-orang dengan sederhana pula?

Tuhan, gimana ya dapat tenaga untuk membayar mimpi itu?

Follow Us @thequarterz