Wednesday, March 9, 2022

Tentang Tujuan dan Ketersesatan


"Goal kamu apa, Vo?"

26 menit percakapan dengan Hanif, satu pertanyaan itu yang membuatku tergugu seharian. "What's my Goal?" Setelah Camp I am on My Way, 2016 tahun dimana aku menuliskan bahwa tujuan hidupku adalah "To facilitate people pursuing their dreams through English learning" yang telah kujalani lika-likunya sejak saat itu, here I am now today. LOST! Tersesat. :D

Inginku menuliskan kegagalan-kegagalan yang yang kutorehkan dengan gemilang, :D, tapi sungguh, pada akhirnya akan tiba pada kesimpulan bahwa kegagalanku yang terbesar adalah bahwa aku tidak mencoba. Bahkan mencoba untuk menginginkannya. Padahal mengingini itu gratis, mendapatkannya yang perlu bayar. Entah sejak kapan aku belajar untuk memupuskan keinginan, yang sebenarnya sangat perlu dipertanyakan: "apakah kamu tidak ingin melekat? ataukah kamu hanya tidak berani? atau kamu merasa tidak pantas?"

Dan disinilah aku sekarang, out of nowhere yang tidak melekat pada apapun selain kehampaan. Tidak pada dunia, tidak pada jiwa, tidak pada raga. Trus mauku apa? :D

Tapi begitulah mungkin ya? Akan ada saat kebosanan bicara nyata, "sampai kapan mau begini Vo?" entah itu inner voice, entah explicitly stated by your friends. 

"Aku mau jadi CEO, Vo. Itu sebabnya gue kumpulin skill set gue."

Kata-kata Hanif membuat aku merenung. Di hadapanku ada paket potensi yang bisa dijadikan sesuatu untuk menolong orang lain dan menolong diriku sendiri. Kata Om Maslow, puncak hirarki kebutuhan manusia itu adalah aktualisasi diri. Karya. Kepuasan manusia yang ultimate ada pada legacy nya.

Kata mas Ali Abidin, "Lo mau mati dikenang sebagai sebagai orang yang gimana?" yaaa "Yang berguna bagi nusa dan bangsa, terutama pada orang tua" kayak doa bapak sehari-hari. Pak, anak perempuanmu ini mau jadi apa ta?

Ada dua pendekatan sepertinya dalam melihat tujuan hidup ini. Satu, dia dicari dan dituliskan, seperti kumpulan puzzle yang dipotong dan dirangkai kayak metodenya Bang Ali dan Hanif. Mereka membuat plan dan menuliskan miles stoone yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Dua, menjalani apa yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya, setulus-tulusnya seperti apa yang Mamak lakukan. Tapi, rasa-rasanya mamak pun selalu menyimpan goals dalam hatinya. Selalu ada visi bagi mamak. Mamak yang hobi koleksi rumah XD. Mamak yang hobi sekolahin anaknya setinggi-tingginya. Itu yang menggerakkan mamak tiap pagi untuk bangun, bekerja meski sakit. Pendekatan mamak sangat sederhana: 'ada rejekinya' dan benar aja. Mamak menemukan peluang baru saat sedang "mengunung-unung kerjaannya", (Tuhan, makasih. Emakku Inspiring banget)

and how about me?

Mengingat Mamak, aku jadi mikir bahwa hal-hal sederhana yang dilakukan dengan benar akan membawa kita ke tempat yang jauh. Benar juga yang dibilang bang Nata, "Jangan kam lupakan tugu-tugu kecil lainnya, biar kam bisa lihat bahwa kam udah menjalani banyak hal."

By the way, tadi waktu mandi (entah kenapa shower jadi pemberi ide yang setia), aku kepikiran bahwa dengan aset yang aku punya, kenapa aku gak jadi seorang pembicara kelas dunia? Egrh, bisa gak ya? 

Entahlah, aku kagum dengna Lark Doley, saat satuoun kawanku gak menggangap beliau ideola. Aku norak sendiri pas melihatnya. At least, Tuhan, can I be one of Lark Doley? seorang yang humble, dimataku dia adalah pembicara kelas dunia.

Atau aku jadi penulis? Mungkin menulis buku sederhana yang menyentuh dan menggerakkan orang-orang dengan sederhana pula?

Tuhan, gimana ya dapat tenaga untuk membayar mimpi itu?

No comments:

Post a Comment

Follow Us @thequarterz