Saturday, March 5, 2022

05/03/2022


Katanya, orang yang bahagia adalah orang yang pintar bersyukur; dia yang bisa mengapresiasi hal-hal kecil. 
Hari ini 03/05/2022, adalah perayaan 31 tahun pernikahan Bapak dan Mamak. Isn't it great?
Sebagai catatan, this is the first time we remember it. Bukan hanya bahwa Bapak dan Mamak sudah berhasil mengarungi asam-manis kehidupan perkawinan sedemikian lamanya, tapi ada hal yang mendasar yang membuat kami lebih bersyukur lagi. Yaitu bahwa kami bisa mengingat hal ini. It means, hidup kini lebih baik sehingga kami punya energi untuk mengingat hal yang seumur dewasaku tak pernah kamu rayakan.  Well, we are being okay. 

Ini rahasia manis, tapi pagi tadi saat Nande Ivo diingatkan ini hari pernikahannya 31 tahun lalu, Mamak bereaksi, "Ya udah sana. SMS Bapak-mu." Mereka sedang tidak sepakat dalam satu hal. Mamak memang bukan pasangan easy going. Hal yang mengganjal hatinya akan mengganjal hatinya selama masalah belum kelar. Beda lagi dengan Bapak yang super agreeable, "all is well, well for all." Entah kenapa pada kenyataannya it works for them. Si Mamak yang gak rileks memang karena punya value tentang apa yang benar yang harus dilakukan and she sticks on that. Jadi meski Mamak suka sensitif sendiri tentang hal-hal yang tidak memuaskan hatinya, yang diperkarakan memanglah hal yang patut diperkarakan. Mungkin Tuhan memang mengirimkan Mamak biar Bapak gak terlalu lentur hidupnya. :D Bapak, dalam sisi lain, meski sering jadi korban kekritisan Mamak akoh, bisa menyeimbangkan dengan hati yang (walau terlihat lemah) sangat luas. 

Bapak dalam keluarga besar, dalam pandanganku, memanglah bukan sosok yang ditakuti. Beliau sangat ngayom ke bou-bou dan uda, meski galak ke Bapa Tua. Entahlah, aku gak bisa membaca hati bou dan bapak udaku. Tapi seperti Bapak memanjakan anak gadisnya ini, demikianlah Bapak memanjakan adik2nya. Membuat Bapak sering dilema dalam menyeimbangkan hati istri vs hati keluarga. Kalau saja Bapak gak memanjakan juga keluarga dari pihak Mamak, entah apa jadinya. But Thank God, Bapak yang pintar berkerluarga itu memenangkan hati semua orang. At least, dalam kacamata objektif, Bapak memang gak di'takuti' nor a very respectable in his siblings eyes (one that makes mother sad too), but he deserves it sih. Bapak layak dihargai sebagai leader of the big family. He may not just want it. He is okay with that. And in Mamak's opinion that is not right. Makanya tadi beliau bals "SMS lah Bapakmu"

Dalam usia yang lebih muda. Atau seandainya aku tinggal di Jakarta, mendengar perkataan Mamak pasti membuat hatiku sedih. They are not being okay. I would not be okay with that. Tapi aku bersyukur mendengar itu saat aku siap. So I reply, "Lho, yang nikah siapa, yang SMS siapa." and we laughed! 
Well, that I trust that they can pass through this. That make me realize that my life is being wonderful.

Bapak dan Mamak punya jiwa yang indah dan saling melengkapi. Keduanya jauh dari sempurna. Tapi hari ini aku sangat bersyukur that they live long to show me what it is meant to love.

No comments:

Post a Comment

Follow Us @thequarterz