Thursday, October 19, 2023

Seberapa kenal kita dengan pilihan kita?

Demi memeriahkan pesta demokrasi tahun depan, izinkan saya untuk menulis catatan refleksi perjalanan memilih  Bapak Negara RI setelah Amang Boru Jokowi.

Awalnya tentu bingung dengan ketiga calon pada bursa pemilihan. Rasanya seperti masuk ke warteg dengan deretan menu yang tidak menggugah selera, tapi pada saat yang sama, harus makan meski tak lapar-lapar amat. Tiada yang menggairahkan sampai pelan-pelan satu persatu menu dicicipi sebelum memutuskan pesanan. (Emang boeh menu warteg nyicip? Wkwkw) Setelah ketiga bapak diundang dalam satu diskusi di UI, pun saya masih belum terkesan. Beberapa jawaban malah membangkitkan ekspresi ... itu lho...  kayak emotikon orang nangis di WA. (Biasanya diikuti dengan "Cape banget" T_T, kayak gitu)

Tapi kemarau berangsung mendingin ketika Pak Mahfud MD masuk dalam kolam pemilihan. Tersibaklah lagi kisah patah hati yang paling menginspirasi.

Mari kita ingat lagi, 5 tahun lalu. Agar drama ini lebih ngiris, kita posisikan diri sebagai Pak Mahfud, ya.
Suatu hari Presiden menelepon, melamar "Mau gak menemani saya jadi wakil presiden?". Setelah mengatakan "Yes, I Do.", persiapan pun dilakukan. Uang disiapkan. Dokumen disiapkan. Diskusi-diskusi visi dan misi, pasti banyak. Baju sudah diukur dan disiapkan. Konsep foto bareng sudah disiapkan. Bahkan, malam sebelum pengumuman, masih mengkonfirmasi, jangan sampai salah nama. 
Maka dengan segala restu dan doa kerabat, Blio menunggu di kedai kopi besoknya. Sudah memakai baju putih, dan siap membonceng sepeda besok. Ceritanya, nanti pas dipanggil "Calon Presiden saya adalah Mahfud MD", Belio akan datang dengan senyuman, lambai-lambai bangga gitu. Pasangan JOKOWI, gitu lho!

Ndidalah, pas udah meledak ledak didada ini rasanya, yang dipanggil adalah "Maaruf ...."

Kalau di film-film, efek suaranya pasti sudah "Ngiiiiiing.", trus secara visual pandangan kamera kabur. 

Apa itu ditinggal pacar kawin, dihianati besti kayak gini lebih sakit, Gan!

Antiklimaks yang sangat membangongkan. Plot twist yang prikitiw. 

Makanya pas pak SBY marah2 karena Pak Anies milih Cak Imin, dalem hati Pak Mahfud mungkin mikir, "Nga sian bagasan ahu dabah. Um accitan dope na diau" atau bahasa gaulnya, "I've been there, Bro. Been worse" lebih parahan aku, lagi.

Tapi kisah pak Mahfud ini benar-benar membuat simpati. Beliau bukannya bukan siapa-siapa. Prestasinya banyak. Omong apa adanya. Hidupnya sederhana. Nurun ke anaknya yang kumlaud di kedokteran UGM, tapi orang-orang gak ngeh dia anak menteri. Sungguh satu sosok protagonis dalam cerita ini. 

 Dari Belio kita belajar berbesar hati dan tidak dendam. Belajar bijaksana dan penuh pengertian. Jadi Pak JKW juga pasti gak enak banget saat itu. Tapi mengenai apa yang terjadi dibelakang layar, tentu kita tak mau liar menebaknya. Karena Pak Mahfud sendiripun tiada berkoar koar akan sakit hatinya.

Selain seorang cendikiawan di dunia akademik, beliau punya serentetan prestasi yang kalau saya jabarkan akan tedengar seperti buzzer. Lain kali saja kita bahas, dalam satu tulisan khusus.

Turut senang belio menjadi salah satu kandidat. Meski kisah di atas tidak bisa jadi patokan untuk memilih Presiden. Tapi setidaknya kita sudah belajar mengenal salah satu karakter calon dari cerita itu. Semoga bisa jadi kebiasaan baik dalam diskusi politik nantinya.

https://voi.id/berita/268114/rekam-jejak-mahfud-md-di-kursi-kementerian

Follow Us @thequarterz