Tuesday, December 10, 2019

How do you measure what you want in life?

Dalam setiap tujuan dan tindakan kita, seharusnya kita punya standar tertentu bukan? Dari hal tersederhana seperti membeli sayur di pasar, sampai menentukan pilihan untuk pendamping hidup, semuanya butuh pertimbangan. Ada yang dengan cepat kita bisa memutuskannya. Ada pula yang perlu pikirkan matang-matang, dibuat list plus minus, sampai didoakan berhari-hari. Semua tergantung dari seberapa lama dampak keputusan itu akan mempengaruhi hidup kita ke depannya. Masak sayur dan menikah adalah dua proses yang tidak boleh disamakan tingkat kepentingannya. (Ya kale disamain, ya? :D) Semua pertimbangan itu tentu berfungsi untuk membantu kita untuk mencapai hal yang menurut kita "IDEAL". 
Masalahnya, apa itu "ideal" dan bagaimana cara menggapai "keidealan" itu. Pernah ga sih dicap sebagai orang yang "idealis". Konotasi kata idealis sebenarnya positif, tapi dalam banyak kasus 'idealis' menjadi kata yang bernada negatif. Orang yang idealis sering disebut keras pendirian dan sulit diajak kompromi. Apa betul begitu?
Paling gampang sebenarnya kita cek KBBI mengenai defenisi ideal. Menurut KBBI daring, kata "ideal" berarti  sangat sesuai dengan yang dicita-citakan atau diangan-angankan atau dikehendaki. [1] Kata ideal sendiri berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu idea, yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia sebagai sebuah visi atau kontemplasi [2]. Jadi wajar saja jika orang idealis dianggap keras kepala, sebab 'idea' muncul sebagai sebuah visi (penglihatan) dan kontemplasi (perenungan).
Bohong banget kalo ada orang yang bilang "aku sih ga punya tipe ideal, yang penting dia nyambung sama aku." Blah! Mana ada itu! "dia nyambung sama aku" sendiri itu adalah sebuah tipe ideal. Cuma, ya perlu waktu untuk merenungkan, yang disebut "nyambung" itu gimana rinciannya? Kalau dia ngomongin politik, kamu ngomongin fashion, nyambung ga? Iya kali kalian jadinya membahas betapa industri selendang yang dipakai mentri Sri Mulyani dalam acara-acara kondangan turut memajukan ekonomi daerah, hehehe. Maksa ya. 

Intinya, pasti kita semua mendambakan keadaan atau pun orang yang ideal.
Selain bersifat subjektif, idea juga bisa jadi berubah, tergantung dari siempunya. Seiring dengan hal-hal yang terjadi dalam hidup kita, hal-hal idealis yang ada dalam hidup juga berubah. Misalkan, jika dulu sewaktu SMA orang yang ganteng dan romantis menjadi sosok ideal menjadi pacar, maka ketika kuliah 'orang yang pintar' lebih menarik. Sejalan dengan waktu, orang yang mapan dan berwibawa terlihat lebih menentramkan sekaligus mensejahterakan. Semuanya berubah sesuai dengan pengalaman hidup. Ada seorang senior yang memilih tidak akan menikahi laki-laki rupawan karena trauma dengan mantan pacarnya yang, menurutnya, pecicilan. Ada juga yang merasa harta bukan segala-galanya karena secara ekonomi seseorang merasa mampu untuk mencukupi hidupnya tanpa harus mencari pasangan kaya raya. Sebaliknnya, ada yang merasa orang kaya biasanya memiliki persepsi yang sangat berbeda tentang uang. Sehingga bukan hanya mereka bisa mendapatkan uang lebih banyak, cara menggunakan uang bagi orang kaya juga  tidak norak menghambur-hamburkan. Yah, itu kembali pada kecocokan dan idaman masing-masing.


Bagaimanapun yang paling penting adalah kita tahu apa yang ideal bagi kita sendiri. Apa yang kita butuhkan, baik secara mental maupun material. Aku rasa tidak ada salahnya jika kita memiliki tipe idela dalam hidup ini. Banyak orang yang sungkan untuk mengutarakan sosok seperti apa yang mereka mau. Mungkin takut atau merasa tidak pantas. Mungkin merasa tabu. Tapi jauh didalam hatimu, bukankah kamu punya sosok itu sebenarnya? Mungkin kita tidak perlu mengutarakan kepada orang lain. Tapi kita harus mengutarakan pada diri sendiri, "aku mau orang yang seperti kriteria ini 1..2..3.."  atau "orang yang ideal sebagai pasangan bagiku adalah yang seperti ini...." 
Seperti namanya, idea adalah sebuah kontemplasi. Perlu merenungkan dengan sungguh-sungguh tentang tipe pasangan yang kamu butuhkan dalam hidup. Ketika aku mengatakan pasangan, tentu yang aku maksud adalah pasangan hingga jenjang pernikahan. Bagiku pribadi, kehidupan idealnya di-isi dengan sebuah pernikahan. Terlepas dari hiruk pikuk masalah yang akan dihadapi. 

Pada akhirnya memang tidak ada yang benar-benar 100 persen seperti sosok "ideal" yang kita mau. Tapi memiliki standar dalam hidup jauh lebih baik dari pada menerima apa adanya. Ingat, sebelum kamu menikah kamu punya banyak pilihan. Setidaknya kamu punya dua "menunggu yang mendekati ideal datang" atau "menerima siapa saja sebagai sosok idealmu"

[1] https://kbbi.web.id/ideal
[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Ideal

Saturday, December 7, 2019

Melirik pada kilasan 2019, beberapa bulan terakhir bukanlah bulan-bulan yang penuh ucapan syukur buatku. Meskipun seharusnya aku mengucap syukur untuk banyak hal yang Tuhan beri dan percayakan untuk untukku, rasanya kepuasan maksimal belum tercapai. Ada bagian dari dalam diriku yang masih kosong, perlu diisi. Singkatnya, aku mengakui ketidakbahagiaan yang aku rasakan disebabkan ada hal yang seharusnya aku lakukan, tapi tidak aku lakukan dengan berbagai alasan.
Kembali bertemu dengan member UITMC membuatku sangat bahagia dan hatiku bertanya "Where have I been? Kemana saja saya selama ini?"
Bekerja sebagai full-time part-timer membuatku hanya berfokus pada kerja dan uang. Sangat melelahkan ketika kamu fokus pada uang dan mengorbankan kesehatan jiwa-ragamu. Kesehatan jiwa, yang dulunya aku isi dengan berkumpul dengan orang-orang positif ini, terkuras. Hari liburku akhirnya dipenuhi dengan hal-hal non-produktif, seperti tidur, rebah, dan webtoonan. Selain un-faedah, kegiatan sejenis telah merusak hubungan dengan diri sendiri dan sesama. Kesehatan raga juga terlupakan karena sometimes I skipped lunch or dinner. Berat badanku kacau, hanya 42 kilo. Iyaps, that's too bad untuk seorang wanita mandiri yang aktif bekerja kesonoh-sinih. Jangan tanyakan olahraga! Latihan ringanpun tidak aku lakukan. Padahal, kalau dihitung-hitung pemasukan yang diharapkan juga tidak seluarbiasa itu, meski aku tetap sangat mensyukuri pekerjaanku.
Sampai dua hari yang lalu, aku menyadari bahwa I have been being insecure. Pernah ga kalian melihat teman-teman yang keren lalu merasa 'wow. dia keren!' tapi satu sisi merasa 'ih, kok aku masih gini-gini aja?'. Bagiku, itu adalah alarm bahwa ada hal yang harus segera diperbaiki dalam hidupku. Ketika aku mulai merasa cemas akan hidupku saat aku melihat kegembiraan orang lain, artinya aku iri. Iri hati, meskipun wajar dan manusiawi, adalah hal yang salah. Maka semakin tidak bahagialah aku dan sangat merasa bersalah karena I started being jealous.
After I evaluated myself, aku sadar bahwa I've been so focused on myself that I forgot my surrounding. I asked myself, "What do I need? Apa yang aku butuhkan? Inspirasi? Koneksi? relasi? Energi?" Today, that I decided to go and visited my former club ,I felt fulfilled. Terasa cukup di-recharge. So, this what I have been longed for so long. The feeling of learning and growing.
Kebutuhan dasar manusia adalah mencakup intake dan output. Seperti kita butuh makan, kita juga butuh belajar sebagai intake. Kita perlu merasa bertumbuh. Selain itu kita juga butuh out put. Kita butuh bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sebagai manusia, kita perlu untuk merasa berdaya. Dan rasanya benar, kebaharuan sangat membantu untuk merasa bahagia.




Harus kuakui, September ke November adalah bulan-bulan lelah. But, I survived. Banyak hal-hal yang mengecewakan yang aku lalukan. I have to do something about that. Aku berharap kita semua bahagia, agar kita bisa membahagiakan lingkungan kita. Agar kita terhindar dari rasa iri hati. Agar kita bisa berdamai dengan keadaan. Hidup masih panjang, sayangnya kita tidak tau kapan visa kita di bumi expired. Untuk itu aku berharap, kita melakukan sesuatu yang baru yang bisa membuat kita bahagia.

Follow Us @thequarterz