Kaki yang terikat tidak bisa melangkah, begitu juga pikiran.
Bila kita belum selesai dengan masa lalu, apapun tantangan yang ada dihadapan pasti akan dikaitkan dengan kejadian lampau. "Dulu pun..." , "Saat itu pun.. ". Bukankah itu bentuk afirmasi bahwa kita orang yang terjebak di satu masa?
Saya suka dengan penggunaan Simple Perfect Tense. Ia menguraikan kejadian sebagai sebuah proses. Fungsinya untuk menerangkan sesuatu yang sudah berhasil dijalani/dilakukan.
Kita tak perlu mengingat dengan detail waktu kejadian, cukup dengan durasi.
Berapa lama? Sejak kapan?I have been here since 2010.
Ia juga bisa menerangkan apa saja yang telah kita kerjakan tanpa keterangan waktu sama sekali
-Oh, I have asked them many times.
-We have solved the problem.
Tentu saja dia disebut 'present' karena yang telah kita lakukan dimasa lalu, berdampak dimasa sekarang. Secara lembut ia menyiratkan konsekuensi atas apa yang sudah kita lalui.
- He have spent all of his money, he is broke.
- Scientists have found new formula to cure the disease
- We have been fallen so many times that we are stronger now.
Tapi secara tegas menyatakan bahwa yang sudah terjadi, sudah selesai. Terima lah dan lanjutkan hidup..
...baik itu kesalahan,
I have made so many mistakes
...maupun kebaikan,
I have been blessed..
Baik itu luka, salah atau memori masa lalu yang indah, maukah kita tetap mengulangnya? Tanpa disadari ikatan itu, kitalah yang menggenggamnya. Kita lah yang tak mau melangkah. Takut barang kali? Atau karena masa lalu mudah dijadikan alasan?
Bentuk Simple Perfect Tense mengajarkan untuk bertangungjawab pada pilihan, sekaligus mendorong kita untuk menikmatinya.
Hingga suatu saat kita meletakkan semuanya,
"I have been there.. I am over it" Sambil tersenyum dan berlari.
Selamat Hari Minggu, semuanya...