Saturday, May 1, 2021


Kaki yang terikat tidak bisa melangkah, begitu juga pikiran. 

Bila kita belum selesai dengan masa lalu, apapun tantangan yang ada dihadapan pasti akan dikaitkan dengan kejadian lampau. "Dulu pun..." , "Saat itu pun.. ". Bukankah itu bentuk afirmasi bahwa kita orang yang terjebak di satu masa? 

Saya suka dengan penggunaan Simple Perfect Tense. Ia menguraikan kejadian sebagai sebuah proses. Fungsinya untuk menerangkan sesuatu yang sudah berhasil dijalani/dilakukan.

 Kita tak perlu mengingat dengan detail waktu kejadian, cukup dengan durasi.

Berapa lama? Sejak kapan?
I have been here since 2010.

Ia juga bisa  menerangkan apa saja yang telah kita kerjakan tanpa keterangan waktu sama sekali
-Oh, I have asked them many times.
-We have solved the problem.

Tentu saja dia disebut 'present' karena yang telah kita lakukan dimasa lalu, berdampak dimasa sekarang. Secara lembut ia menyiratkan konsekuensi atas apa yang sudah kita lalui.
- He have spent all of his money, he is broke.
- Scientists have found new formula to cure the disease
- We have been fallen so many times that we are stronger now.

Tapi secara tegas menyatakan bahwa yang sudah terjadi, sudah selesai. Terima lah dan lanjutkan hidup..

...baik itu kesalahan,
I have made so many mistakes

...maupun kebaikan,
I have been blessed..


Baik itu luka, salah atau memori masa lalu yang indah, maukah kita tetap mengulangnya? Tanpa disadari ikatan itu, kitalah yang menggenggamnya. Kita lah yang tak mau melangkah. Takut barang kali? Atau karena masa lalu mudah dijadikan alasan?

 Bentuk Simple Perfect Tense mengajarkan untuk bertangungjawab pada pilihan, sekaligus mendorong kita untuk menikmatinya.

Hingga suatu saat kita meletakkan semuanya,

"I have been there.. I am over it" Sambil tersenyum dan berlari. 

Selamat Hari Minggu, semuanya...

Tuesday, February 2, 2021



x

Butuh 1287 Km perjalanan dan satu jenasah dalam mobil keluarga Hoover untuk terkoneksi. 

Sebelum masuk, dorong dulu, baru lari :)

Apa jadinya bila satu keluarga dipaksa dalam mobil dalam waktu yang panjang? Tentu anda sudah bisa menebaknya, konflik pribadi menjadi masalah bersama. Itulah yang terjadi pada keluarga Hoover dalam film Little Miss Sunshine. Poster kuning emas berlatar van mogok dan anggota keluarga yang berlarian berhasil memikat untuk menekan tombol 'select'. Mungkin saya terpengaruh oleh kenangan masa kecil mendorong mobil mogok, atau mungkin karena adegan kakek yang tampaknya baik hati dalam poster ini. 


Sayangnya, kakek ini bukan sosok teladan rupanya: penghidu heroin, otak mesum, dan terusir dari panti jompo. Gambaran non-ideal akan figur seorang ayah. Dan memang itulah keluarga ini, seperti pada umumnya, tidak ideal. Mari kita lihat anggota keluarga yang lainnya. Dimulai dengan tiga laki-laki lainnya dalam keluarga ini. 


Yang termuda, Dwanye, berambisi menjadi pilot pesawat tempur. Pintar dan kritis, Dwane mengagumi Nietzsche sampai pada titik melakukan aksi 'tutup mulut' sampai ia berhasil mewujudkan mimpinya. Aksi ini tampak seperti pemberontakan yang lesu. Sama lesunya dengan kisah hidup Frank, pamannya.


Seorang homoseksual dan mencoba bunuh diri berkali-kali akibat patah hati, Frank bukanlah seseorang yang penuh semangat. Ia cenderung pendiam dengan mata kosong. Ia menjadi beban keluarga Hoover, sebab pemerintah mewajibkannya selalu dalam pengawasan keluarganya. (Yes, pemerintah digambarkan hadir mengurusi anda saat anda depresi. Dan keluarga ini patuh pada pemerintah) Dibalik sosoknya yang dianggap pecundang, Frank adalah seorang akademisi kampus. Karirnya berhenti "karena tindakan satu dan lainnya". Sejak film dimulai, sutradara telah memposisikan Frank sebagai sosok yang patut menerima simpati. Ia cukup terbuka menjelaskan masalahnya pada keponakan kecilnya, dan tidak marah (atau terlalu lemah untuk marah) saat menerima cap 'pecundang' dari Iparnya, Ricard. 


Hanya ada dua jenis manusia di dunia ini, pecundang dan pemenang. Itulah mantra Richard, sang bapak keluarga Hoover. Memiliki ayah pecandu heroin, anak tiri yang 'emo', penyendiri dan sarkas, serta abang ipar gay yang depresi, Richrad seharusnya adalah yang paling menawan dalam keluarga ini. Apalagi, ia berprofesi sebagai motivator. Ia percaya pada kekuatan kerja keras dan selalu berusaha untuk menghindari kegagalan. Ia kerap memotivasi anaknya agar selalu menjadi yang terbaik. Agar putri kecilnya Olive bisa ikut dalam kontes kecantikan Little Miss Sunshine, iya rela berkendara puluhan jam sejarak dari Bekasi ke Lombok.


Sayangnya, Richard bukanlah favorit kita. Ia tidak memiliki rasa empati terhadap keluarganya. Ia gemar menyindir dan keras kepala. Ini tampak dalam dua adegan meja makan. Pada adegan sarapan di awal film, Richard suka memotong pembicaraan yang mendalam antara Frank dan Olive saat Olive bertanya tentang keadaan Frank. Tidak mudah untuk membuka orientasi seksual anda sekaligus menjelaskan mengapa anda mencoba bunuh diri. Saat mau bercerita, tak seorangpun mengharapkan lidahnya dipotong. Tapi Richard seperti berhati dingin karena ia tidak mengizinkan Frank mengungkapkan kegalalannya. "Tidak ada ruang untuk pecundang". Adegan selanjutnya, saat makan di restoran,  Richard mencoba memanipulasi Olive kecil agar tidak makan eskrim coklat kesukaannya "karena eskrim mengandung lemak yang membuatmu gemuk. Apakah kau pernah melihat pemenang kontes yang gemuk, Olive?". Namun kali ini, Richard kalah karena Frank dan anggota keluarga lainnya berhasil membuat Olive menikmati masa kecilnya: memakan eskrim kesukaannya. 


Tidak ada tokoh sentral dalam cerita keluarga ini. Setiap tokoh digambarkan memiliki masalah masing-masing. Namun, seperti kisah dunia lainnya dimana perempuan tampak seperti sekedar 'pendamping', jantung cerita justru adalah Olive kecil. Little Miss Sunshine dalam cerita ini menurutku bukanlah sebuah ajang kontes kecantikan, melainkan gambaran Olive, Nona Matahari Kecil dalam keluarga Hoover. 

Pertama Olive adalah motif mengapa keluarga Hoover berangkat. Olive dilatih kakeknya untuk pertunjukan bakat. Iya kakeknya yang adalah penghidu narkoba dan suka bicara kasar melatih gerakan Olive dalam ajang pertandingan bakat. Olive menjadi matahari bagi kakeknya saat ia membuat kakeknya merasa berguna. Pada akhirnya, kebijaksaan kakek tampak saat ia mendefenisikan arti sukses bagi Olive. 

Selanjutnya, Olive menjadi matahari untuk abangnya tirinya. Ia hanya duduk dan diam saat Dwayne mengamuk marah akibat tekanan kegagalannya. Aksi diamnya gagal, mimpinya gagal. Hanya kehangatan pelukan Olivelah yang mampu membujuknya untuk masuk dalam mobil dan melajutkan perjalanan. 


Olive sangat mengagumi ayahnya, itu sebabnya ia sangat takut mengecewakan Richard. Ia berjanji untuk menang dalam kontes, dan ia tampak tidak terintimidasi oleh peserta kontes lainnya. Ia menjadi sinar bagi ayahnya, saat Richard menyadari bahwa Olive berada dalam medan perang yang salah. Richard akhirnya melihat bahwa kontes kecantikan itu mengerikan. Senyuman anak-anak yang palsu dengan gigi-gigi penuh pemutih. 


Saat pertunjukan bakat, anda akan kaget-tapi-tak-heran akan penampilan Olive. Bagi saya pribadi, adegan inilah yang menjadi puncak komedi sekaligus resolusi yang apik. 

Perjalanan kita bersama keluarga Hoover menjadi berarti karena meski penuh dengan kegagalan (yang bertubi-tubi), anda akan puas karena merasa turut menjadi bagian dalam kemenangan mereka. 

 

Dibungkus oleh ideologi AMERICAN DREAM dimana anda bisa meraih apapun yang anda inginkan dengan kerja keras, film ini mendefenisikan ulang arti kesuksesan dan kebahagiaan. Adegan ditutup dengan Van Volswagen rusak dan berisik, yang tetap melaju. Mungkin seperti itulah keluarga, berisik, rusak dan kadang ada yang hilang, tapi anda melaluinya bersama-sama. 


Catatan saya adalah porsi Ibu (Sheryl) yang seperti garam dalam cerita ini, terasa tapi tak banyak. Atau, tak banyak tapi esensial. Dengan karakter laki-laki yang dominan dengan masalah yang dominan pula, Sheril tak punya banyak ruang cerita. Ia duduk disamping kemudi, menentukan harga maksimal makanan yang bisa di order, dan menjadi pendukung bagi suami, anak, dan abangnya dan kerap stress menangani keluarganya. Gambaran ibu dalam rumah tangga pada umumnya, bukan? Hal ini pula yang membuat saya suka-tidak-suka pada film ini. Tapi, sepertinya film ini tak mengizinkan saya tidak suka lama-lama. Sebuah adegan berkesan berhasil menghibur kegundahan saya akan kurangnya peran sang Ibu. "Let Olive be Olive" kata-kata inilah yang membuat Olive menjadi Ibu yang kuat. Seorang Ibu mudah tergoda untuk mengontrol kehidupan anaknya. Anak yang baik adalah anak yang bisa dikontrol. Benar gak ibu-ibu? 

Saat Richard, Frank dan Dwyane ingin melindungi Olive kecil dari kontes kecantikan yang "mengerikan", Sheril malah menanyakan keinginan Olive.

Keputusan Sheryl untuk memberikan Olive untuk memutuskan sendiri bukanlah hal yang mudah. Sheryl juga pasti ingin melindungi anak perempuannya yang manis. Namun, keputusan sang Ibu adalah keputusan yang tepat, karena pada akhirnya, Olive bisa membuktikan diri bahwa dialah Little Miss Sunshine yang sesungguhnya. 

Follow Us @thequarterz