Saturday, December 7, 2019

Iri Hati: Sebab dan cara menghidarinya. Sebuah studi kasus (Atau Curhatan)

Melirik pada kilasan 2019, beberapa bulan terakhir bukanlah bulan-bulan yang penuh ucapan syukur buatku. Meskipun seharusnya aku mengucap syukur untuk banyak hal yang Tuhan beri dan percayakan untuk untukku, rasanya kepuasan maksimal belum tercapai. Ada bagian dari dalam diriku yang masih kosong, perlu diisi. Singkatnya, aku mengakui ketidakbahagiaan yang aku rasakan disebabkan ada hal yang seharusnya aku lakukan, tapi tidak aku lakukan dengan berbagai alasan.
Kembali bertemu dengan member UITMC membuatku sangat bahagia dan hatiku bertanya "Where have I been? Kemana saja saya selama ini?"
Bekerja sebagai full-time part-timer membuatku hanya berfokus pada kerja dan uang. Sangat melelahkan ketika kamu fokus pada uang dan mengorbankan kesehatan jiwa-ragamu. Kesehatan jiwa, yang dulunya aku isi dengan berkumpul dengan orang-orang positif ini, terkuras. Hari liburku akhirnya dipenuhi dengan hal-hal non-produktif, seperti tidur, rebah, dan webtoonan. Selain un-faedah, kegiatan sejenis telah merusak hubungan dengan diri sendiri dan sesama. Kesehatan raga juga terlupakan karena sometimes I skipped lunch or dinner. Berat badanku kacau, hanya 42 kilo. Iyaps, that's too bad untuk seorang wanita mandiri yang aktif bekerja kesonoh-sinih. Jangan tanyakan olahraga! Latihan ringanpun tidak aku lakukan. Padahal, kalau dihitung-hitung pemasukan yang diharapkan juga tidak seluarbiasa itu, meski aku tetap sangat mensyukuri pekerjaanku.
Sampai dua hari yang lalu, aku menyadari bahwa I have been being insecure. Pernah ga kalian melihat teman-teman yang keren lalu merasa 'wow. dia keren!' tapi satu sisi merasa 'ih, kok aku masih gini-gini aja?'. Bagiku, itu adalah alarm bahwa ada hal yang harus segera diperbaiki dalam hidupku. Ketika aku mulai merasa cemas akan hidupku saat aku melihat kegembiraan orang lain, artinya aku iri. Iri hati, meskipun wajar dan manusiawi, adalah hal yang salah. Maka semakin tidak bahagialah aku dan sangat merasa bersalah karena I started being jealous.
After I evaluated myself, aku sadar bahwa I've been so focused on myself that I forgot my surrounding. I asked myself, "What do I need? Apa yang aku butuhkan? Inspirasi? Koneksi? relasi? Energi?" Today, that I decided to go and visited my former club ,I felt fulfilled. Terasa cukup di-recharge. So, this what I have been longed for so long. The feeling of learning and growing.
Kebutuhan dasar manusia adalah mencakup intake dan output. Seperti kita butuh makan, kita juga butuh belajar sebagai intake. Kita perlu merasa bertumbuh. Selain itu kita juga butuh out put. Kita butuh bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sebagai manusia, kita perlu untuk merasa berdaya. Dan rasanya benar, kebaharuan sangat membantu untuk merasa bahagia.




Harus kuakui, September ke November adalah bulan-bulan lelah. But, I survived. Banyak hal-hal yang mengecewakan yang aku lalukan. I have to do something about that. Aku berharap kita semua bahagia, agar kita bisa membahagiakan lingkungan kita. Agar kita terhindar dari rasa iri hati. Agar kita bisa berdamai dengan keadaan. Hidup masih panjang, sayangnya kita tidak tau kapan visa kita di bumi expired. Untuk itu aku berharap, kita melakukan sesuatu yang baru yang bisa membuat kita bahagia.

No comments:

Post a Comment

Follow Us @thequarterz