Friday, December 2, 2022

Sang Pemanah: Nasehat dalam Satu Jam

 "Anda memiliki kemampuan, kesungguhan, dan postur... Teknik Anda bagus dan Anda sangat menguasai busur Anda, tetapi anda belum muenguasai pikiran Anda."


Demikian Paulo Coelho membuka sebuah nasehat bagi calon calon pemanah, para pembaca "Sang Pemanah". Gandewa adalah nama tokoh utama yang dipilih oleh penerjemah buku; dalam bahasa Jawa berarti busur panah. Ilustrasi yang dipilihkanadalah seorang pemanah yang menggunakan blankon dan sarung. Buku ini bercerita tentang seorang yang sudah menemukan pencerahan dalam hidupnya. Narasi buku terdapat dalam Bab Pendahuluan dan Penutup. Selebihnya, buku berkebalan 151 halaman ini pebuh dengan ilustrasi dan ajaran-ajaran Sang Pemanah. Sepertinya Sang Pemanah benar-benar menepati janjinya, " Aku bisa mengajarimu tidak sampai satu jam, ... .Yang sulit adalah melatihkan setiap hari, sampai kau mencapai ketepatan yang dibutuhkan." Saya membaca buku ini dalam satu jam, sambil mencatat dalam hati apa-apa saja yang sekiranya perlu diingat, meski menurut sang penulis "Pemanah baru belajar justru ketika ia melupakan semua aturan dalam jalan busur dan bertindak mengandalkan nalurinya. Tetapi untuk bisa melupakan aturan-aturan itu, terlebih dahulu dia harus menghormati dan mengenali semuanya." Oleh sebab itu, saya tuliskan beberapa catatan mengenai buku ini sebagai pengingat di masa depan.



"Pemanah yang tidak pernah berbagi suka citanya kepada siapapun tentang jalan busur dan anak panah tidak akan pernah tahu kualitas dan kekurangannya sendiri"

Pada awalnya Sang Pemanah menekankan pentingnya berbagi suka cita, tapi untuk bisa bersuka cita, seorang pemanah harus tau tentang jalan busur dan anak panah. Seorang pemanah sewajarnya tahu bagaimana busur dan anak panah bekerja. Seperti yang diyakini Gandewa, "jalan busur hadir dalam setiap aktivitas manusia". Dalam kehidupan dan peran kita masing-masing, kita memiliki jalan busur kita. 

Pelajaran yang pertama oleh Sang Pemanah adalah mengenai SEKUTU. Bukan buru, bukan anak panah, bukan sasaran atau cara mengenainya, melainkan sekutu. "Sebelum memulai apapun, carilah sekutumu, orang-orang yangn tertarik mengenai apa yang kau lakukan. ... Bukan pemanah lain, yang kumaksud adalah carilah orang-orang yang memiliki kecakapan-kecakapan lain, sebab jalan busur tidak berbeda dengan jalan lain manapun yang ditempuh dengan antusiasme."

"Sekutumu belum tentu jenis orang yang memesona yang menjadi panutan semua orang dan yang menurut orang-orang 'tak ada yang lebih baik dari dia'. Sebaliknya, mereka dalah orang-orang yang tidak akan takut berbuat kesalahan dan karenanya melakukan kesalahan, dan itulah sebabnya karya mereka acap kali tidak dikenali. Padahal justru irang-orang seperti inilah yang mengubah dunia, dan setelah sekian banyak kesalahan, berhasil melakukan sesuayu yang meberikan dampak sangat besar dalam masyarakat mereka."


Membaca dua halaman ini membuat saya teringat pada kepercayaan Pak Gita Wirjawan mengenai keanekaragaman, diversity. Ia percaya kekayaan diri dicapai dengan bergaul, mendengar, dan belajar dari orang-orang yang berbeda dengan kita. Keragaman memperluas sudut pandang dan memunculkan inovasi. Hal ini pun tampaknya disetuji oleh Sang Pemanah. "dari tukang roti yang baik kau akan belajar menggunakan tanganmu, dan bagaimana membuat campuran yang tepat. Dari Petani kau berlajar tentang kesabaran, kerja keras menghormati musing-musim, dan tidak merutuki badai yang datang, sebab semua itu sia-sia."

Selanjutnya, Sang pemanah menasihatkan pembaca untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan-keputusan yang diambil. Benar bahwa keputusan itu dipengaruhi oleh pengtahuan yang kita dapat dari perspektif yang beragam, namun sekali anak panah dilesatkan, seorang pemanah bertanggung jawab atas anak panah itu. Ia takkan menyesali keputusannya. 

" Hidup bersama orang-orang seperti itu penting bagi seorang pemanah, sebab ia perlu menydari bahwa sebelum menghadapi sasaran, pertama-tama dia harus merasa cukup bebas untuk mengubah arah selagi dirinya mengangkat busur ke dadanya. Ketika dia membuka jemarinya dan melepas tali busur, dia harus berkata bagi dirinya sendiri, " Selagi menarik busur ini, aku telah menyusuri jalan yang panjang. Sekarang aku melepaskan anak panah ini dengan kesadaran penuh bahwa aku telah mengambil resiko-resiko yang diperlukan, dan mengerahkan upaya terbaikku."


Tersebab nama saya dalam bahasa arya, bahasa Jerman Kuno, berarti Anak Panah, maka Bab Anak Panah pun akan kukutip meski butuh waktu bagiku untuk mencernanya atau mengait-ngaitkannya dengan kehidupanku pribadi. 

"Anak Panah adalah sang Karsa.  Karsa harus sepenuhnya jernih, tajam, dan seimbang. Begitu Anak Panah melesat, dia takkan kembali. Karenanya lebih baik menghentikan tembakan apalikan gerakan yang mengarah kesana tak cukup tepat dan jitu, ketimbang bertindak gegabah, semata-mata karena busur telah direntangkan penuh dan sasaran telah menanti. Namun jangan pernah menunda menembakkan anak panah jika yang melumpuhkanmu adalah rasa takut membuat kesalah... . Kalaupun anak panahmu luput mengenai sasaran, kau akan belajar meningkatkan bidikanmu pada kesempatan berikutnya. ..."

Baiklah mungkin secara personal kutipan ini cocok bagi diriku. Sebab, sering kali saya takut mengambil resiko membuat kesalahan. 


Membca buku ini dalam satu jam tentu seperti mendengarkan kakek menasehati berjam-jam, ditambah bila isinya adalah 'daging semua', memakai bahasa anak JakSel. Bagaimanapun, buku ini lebih cocok dibaca satu lembar semalam dan direnungi sambil menutup mata, mengantar dalalm tidur, dengan harapan nasehatnya masuk dalam alam bawah sadar, dan diwujudnyatakan keseokan harinya. 

No comments:

Post a Comment

Follow Us @thequarterz